Serly 22
Headlines News :

Latest Post

Setiap Langkah Adalah Anugrah

Seorang professor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer. Di sana, ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya, Ralph, penjemputnya di bandara.


Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju tempat pengambilan bagasi. Ketika berjalan keluar, Ralph sering menghilang. Banyak hal dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka, kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dapat melihat sinterklas. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar.

Setiap kali, ia kembali ke sisi sang professor dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
Dari mana Anda belajar melakukan semua hal itu ? tanya sang professor.
Melakukan apa ? tanya Ralph.
Dari mana Anda belajar untuk hidup seperti itu ? desak sang professor.
Oh, kata Ralph, selama perang .....
Saya kira, perang telah mengajari saya banyak hal.

Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam . Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu per satu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.

Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah. katanya ........
Saya tidak pernah tahu, apakah langkah berikutnya adalah pijakan terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki serta mensyukuri langkah sebelumnya.

Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini. Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang bermakna bagi orang lain.

Nilai manusia .......
tidak ditentukan dengan bagaimana ia mati, melainkan
bagaimana ia hidup.
Kekayaan manusia bukan apa yang ia peroleh, melainkan apa yang telah ia berikan.
Selamat menikmati setiap langkah hidup Anda dan BERSYUKURLAH SETIAP SAAT

Banyak orang berpikir bagaimana mengubah dunia ini.
Hanya sedikit yang memikirkan bagaimana mengubah dirinya sendiri..

MENGAPA HARUS BERTENGKAR?

(Yer 11:18-20; Mzm 54; Yak 3:13-4:3,7-8a; Mrk 9:30-37)

Bpk/Ibu yang dikasihi Tuhan, konon ceritanya tiga tahun pertama itu merupakan ujian bagi sebuah pernikahan. Tahun pertama pernikahan, katanya si istri yang banyak bicara, sang suami yang mendengarkan. Masuk tahun kedua, istri sudah capek bicara, maka gantian sang suami yang banyak bicara, si istri yang mendengarkan. Tahun ketiga, suami-istri banyak bicara, tetangga yang mendengarkan.

Pak Dahlan dan istrinya adalah pasangan suami istri yang rukun, mereka tidak pernah kelihatan bertengkar meskipun mereka sudah berumah tangga sekitar 60 tahun. Istrinya sangat penurut, apa-apa yang diminta dan disuruh oleh suaminya selalu dilaksanakan tanpa ada bantahan barang sedikitpun dari istrinya.

Pak Kasim, teman pak Dahlan semasa revolusi fisik menceritakan ihwal kenapa istrinya pak Dahlan begitu penurut. Pada tahun 1946 pak Dahlan hendak mengungsi bersama istrinya, kendaraan yang dipakai adalah delman yang pada waktu itu sudah terbilang mewah jika sebuah keluarga mempunyai delman. Baru beberapa kilometer berjalan kuda delman itu jatuh, mungkin karena kecapekan membawa beban yang sangat berat. Pak Dahlan bergegas turun untuk membantu kudanya berdiri kembali sambil berseru “satu!!!”.

Ketika beberapa saat kuda itu jalan, kuda tersebut jatuh kembali. Pak Dahlan bergegas turun membantu kudanya berdiri kembali sambil mengatakan “dua”. Kuda itupun jalan kembali. Istrinya keheranan. Ketika perjalanan dilanjutkan, kuda itu jatuh kembali. Pak Dahlan bergegas turun kembali sambil mengatakan “tiga” lalu pak Dahlan langsung mengeluarkan pistolnya lalu “DOR…DOR…DOR” kuda itu langsung mati.

Melihat hal itu istrinya langsung memarahi sambil memaki-maki pak Dahlan karena sudah menembak kuda satu-satunya sehingga mereka tidak bisa melanjutkan perjalanannya. Belum habis marah sang istri, pak Dahlan langsung menyela dengan mengatakan, “Satu…..!!!” Maka jangan heran, kalau setelah peristiwa itu mereka tidak pernah bertengkar.

Tema kita hari ini adalah ”Mengapa Bertengkar?” Apakah konflik dan pertengkaran itu sama? Saya sependapat dengan Dr. Norman Wright, seorang konselor Kristen yang mengatakan bahwa konflik dan pertengkaran itu sebenarnya tidak sama. Ada banyak konflik yang ditangani dan diselesaikan dengan baik tanpa harus melalui pertengkaran.

Bp/Ibu yang dikasihi Tuhan, tidak jarang sumber konflik itu kadang berawal dari hal-hal yang kelihatannya sangat sepele. Contoh : yang seorang selalu memencet pasta gigi dari bawah, sedangkan yang lain selalu dari atas. Yang seorang selalu ingin agar suhu ruangan cukup hangat, sedangkan yang lain senang membuka jendela. Dalam rapat, ada orang yang senang bercerita/memberikan opini panjang lebar, sedangkan yang lain memberikan garis besarnya saja. Yang seorang cenderung aktif di malam hari, sedangkan yang lain di pagi hari. Yang seorang perlu kamar yang benar-benar gelap untuk tidur, sedangkan pasangannya ingin tidur dengan lampu menyala. Yang seorang terbiasa menggantung baju di mana saja ia mau, sedangkan yang lain menata baju dengan gantungan berdasarkan warna dan diberi jarak 1,5 cm antar gantungan biar kelihatan rapi.

Bpk/Ibu yang dikasihi Tuhan, setiap hubungan pasti tidak mungkin sama sekali lepas dari konflik. Konflik adalah bagian dari hidup bersama. Namun, seharusnya konflik tidak berubah menjadi racun yang mematikan. Konflik dapat menjadi racun yang secara perlahan melemahkan bahkan mematikan sendi-sendi kehidupan apabila konflik tersebut tidak terselesaikan dengan baik. Namun sebaliknya, konflik dapat menjadi bumbu dalam sebuah hubungan apabila diselesaikan dengan baik.

Jika konflik tidak ditangani dan diselesaikan dengan baik, maka
kan timbul pertengkaran. Perbedaan pendapat seringkali diselesaikan dengan tuduhan, ancaman yang bermuatan emosi, ledakan-ledakan suara, kemarahan-kemarahan, wajah yang mengeras, muka merah, mata melotot dan mungkin kata-kata yang kasar. Dan jika dibiarkan maka bisa mengarah kepada tindakan/perilaku yang anarkis seperti : tindakan pemukulan, menggampar, menjambak, mendorong, menendang, dll.

Sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, pagi (sore) ini kita tidak akan membahas penyebab terjadinya pertengkaran. Tetapi lebih kepada bagaimana cara kita menghindari supaya konflik yang terjadi tidak berubah menjadi sebuah pertengkaran.

Dari perikop yang tadi sudah kita baca, kita akan belajar sedikitnya dua cara menghindari supaya konflik yang terjadi tidak berubah menjadi sebuah pertengkaran; yang pertama…

1. Bersikap Rendah Hati.

Dalam Mark 9:30-37, diceritakan bahwa para murid sedang bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Pertengkaran itu menunjukkan adanya ambisi dalam diri para murid untuk menjadi yang terbesar. Karena itulah maka mereka terdiam ketika Tuhan Yesus menanyakan apa yang mereka perdebatkan. Awalnya mereka diam, mungkin karena malu. Tuhan Yesus kemudian mengajar mereka menggunakan anak kecil. Tuhan Yesus memakai anak itu sebagai simbol/gambaran tentang kerendahan hati, karena dibandingkan dengan orang dewasa, anak kecil adalah seseorang yang rendah hati.

Di samping itu penekanan bahwa kita harus menjadi seperti anak kecil dalam kerendahan hati, juga jelas terlihat dari perkataan Tuhan Yesus dalam ay. 35, “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Dengan lain kata seorang pemimpin adalah seorang yang rendah hati dan bersedia melayani. Tuhan Yesuspun melayani dengan rendah hati, bukan untuk menjadi yang terbesar dan yang pertama, tetapi menjadi yang terakhir dan pelayan dari semuanya. Sikap ini bertentangan dengan sikap para murid dan kebanyakan orang yang selalu ingin menjadi yang terbesar, yang mengakibatkan timbulnya banyak pertengkaran.

Bentuk kerendahan hati seperti apa yang dapat kita terapkan di dalam menghindari pertengkaran. Kerendahan hati itu dapat kita tunjukkan dengan sebuah prinsip: ”Jika kita salah, akuilah.” Di dalam tulisannya yang berjudul ”Cekcok tapi sebetulnya sudah cocok” Pdt. Andar Ismail mengatakan bahw sebenarnya, tiap orang mempunyai ’kunci rahasia” untuk menyelesaikan konflik. Namun kunci itu jarang kita gunakan. Kunci itu terdiri dari tiga kata: ”Saya minta maaf.” Tiga perkataan singkat itu bisa langsung meredakan suasana. Yang perlu adalah kesediaan salah satu pihak untuk mengambil prakasa mengucapkan tiga perkataan itu.

Memang dia bersalah, tetapi bukankah kita pun juga bisa salah? Kalau begitu, mengapa lidah kita begitu berat untuk mengucapkan tiga perkataan itu, ”Saya minta maaf.” Setiap kita harus belajar meminta maaf. Bahkan, orangtua pun harus bisa meminta maaf kepada anak jika orangtua khilaf atau bersalah. Oleh Rasul Paulus, saling memaafkan bahkan dicatat sebagai kesimpulan ciri hidup manusia baru (Ef. 4:17-22).

Jika kita dengan rendah hati mengakui bahwa kita salah, maka ketrampilan berkomunikasi kita akan jauh bertambah baik dan memperdalam hubungan kita dengan orang lain. Rasul Yakobus memberitahu kita untuk mengakui kesalahan satu sama lain dan saling mendoakan (Yak. 5:16). Salomo juga berkata, ”Siapa menyembunyikan pelanggaran/kesalahannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi” (Ams. 28:13)

Jika kita memang bersalah, maka marilah dengan rendah hati kita mengakuinya. Kita bisa mengatakan sesuatu seperti, ”Ya, saya memang bersalah. Maafkan perkataan/tindakan saya yang telah melukai perasaanmu. Apa yang dapat saya lakukan untuk memperbaikinya?”

Cara kedua untuk menghindari supaya konflik yang terjadi tidak berubah menjadi sebuah pertengkaran adalah :

2. Hidup Menurut Hikmat Allah

Mengapa bertengkar? Pertengkaran tidak perlu terjadi jika kita belajar hidup sehari-hari dengan hikmat yang dari atas. Pertengkaran dapat dihindari jika kita memiliki hikmat dari atas. Makna kata ”dari atas” di sini adalah dari Allah, hal ini dapat kita lihat paralelnya dalam Yakobus 1:17: ”Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Hikmat dari Allah membawa cara berelasi yang baru dengan sesama, yaitu dengan kasih. Dalam Yak. 4:7-8 dipaparkan bahwa relasi yang baru ini merupakan hasil perjuangan untuk mengalahkan hikmat dari dunia, dari nafsu dan dari iblis. Hikmat dari Allah tampak dalam hidup sehari-hari yang diwarnai dengan cara hidup yang baik, hikmat yang lahir dari kelemah-lembutan (ay. 13), pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan, penuh dengan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik (v. 17).

Hikmat dari Allah tampak dalam hikmat yang lahir dari kelemah-lembutan. Dalam bahasa Yunani kata kelemah-lembutan ini digunakan untuk seekor kuda yang telah dijinakkan sehingga kekuatannya dapat dikendalikan. Orang yang lemah lembut dapat mengendalikan perkataannya. Ketika terjadi konflik, orang yang memiliki hikmat yang lahir dari kelemah-lembutan ini akan mengendalikan diri untuk tidak membesar-besarkan/melebih-lebihkan masalah (atau istilah anak sekarang; tidak lebay). Pada waktu terjadi konflik orang yang memiliki hikmat yang lahir dari kelemah-lembutan ini akan menghindari perkataan, ”Kamu tidak pernah”, ”Kamu selalu”, ”Semua orang.” Misalnya: ”Kamu tidak pernah tetap waktu”, ”Kamu selalu berkata seperti itu”, ”Semua wanita memang cerewet”, ”Semua laki-laki memang seperti itu” (kecuali Meggy Z dan Basofi Soedirman, ”Tidak semua laki-laki…”), ”Semua orang berpendapat kamu memang begitu, dan saya juga.” Orang yang memiliki hikmat yang lahir dari kelemah-lembutan akan mengungkapkan kebenaran, tetapi ia akan menyatakan dengan kasih dan tidak akan melebih-lebihkan. Sikap pendamai. Hikmat manusia membawa kepada persaingan, permusuhan dan pertengkaran, tetapi hikmat Allah membawa kepada perdamaian.

Sikap pendamai menunjuk pada orang yang tidak senang mencari gara-gara/permusuhan, tidak senang membalas kejahatan dengan kejahatan, tidak senang mengadu domba, tetapi sebaliknya senang menda­maikan. Ketika terjadi konflik, sikap pendamai ini dapat kita wujudkan dengan cara berani mengambil langkah pertama untuk berdamai, tidak menunggu, tidak mencari siapa yang salah. Hikmat Allah menjadikan orang percaya menjadi peramah.

Peramah disini bukan hanya berarti murah senyum, tetapi “considerate” = mempertimbangkan perasaan orang lain. Ada sepasang suami istri yang ribut karena tidak peramah/tidak mempertimbangkan perasaan pasangannya. Suami pulang dari kantor mengeluh kepada istrinya, “Kamu enak di rumah. Tadi jalan macet, di kantor kena marah bos, dan AC kantor rusak. Saya sangat lelah”. Istrinya menjawab “Oh begitu, saya lebih capek dari kamu. Anak kita mencelupkan kucing ke toilet, karena mengurusnya, masakan jadi gosong, jadinya saya harus memasak dua kali, dan sementara itu, tadi hujan turun. Jemuran menjadi basah kembali karena terlambat diangkat, saya harus mencucinya lagi”. Akhirnya suami istri ini menjadi bertengkar. Masalahnya di “considerate”, si istri dalam cerita tadi tidak perlu berkata kepada suami, saya lebih capek dari kamu. Terima saja fakta bahwa mereka berdua kelelahan, dan mereka berdua sama-sama butuh untuk relaks dan istirahat. Di samping itu, orang yang ramah jika ada terlibat konflik akan fokus pada masalahnya dan bukan menyerang orangnya. Apalagi membawa-bawa saudara atau ipar.

Penurut artinya hikmat Allah menyebabkan orang-orang percaya dapat menyesuaikan diri, mudah untuk hidup dan bekerja sama dengan orang lain. Hikmat manusia menjadikan seseorang keras kepala, tetapi orang yang penurut bersedia mendengarkan pendapat/nasehat orang lain.

Penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik. Orang yang memiliki hikmat Allah akan penuh dengan belas kasihan. Orang yang dikuasai oleh belas kasihan tidak akan mendiamkan orang lain/ pasangannya ketika sedang terjadi konflik. Sebagian orang mencoba cara ’mendiamkan’ untuk menghindari pertengkaran. Memang ada pola tertentu yang berhasil dengan cara mendiamkan. Tetapi diam tidak pernah memberi hasil yang memuaskan dalam jangka waktu yang lama. Pepatah ”diam itu emas” dapat juga berarti pengecut. Orang yang penuh dengan belas kasihan, tidak akan bersembunyi di balik diam hanya karena takut menghadapi masalah yang ada.

Tidak memihak, ini berarti bahwa orang itu selalu bersikap adil, baik terhadap bawahan/pegawai, anak dsb. Tidak munafik artinya: tidak bermuka dua, tidak suka ber’sandiwara’. Dengan bersikap tidak memihak dan tidak munafik, maka kita telah menghindarkan diri dari konflik yang tidak perlu.

Penutup:

Ada dua orang bijak yang selama puluhan tahun tinggal bersama dengan damai. Tak pernah sekali pun mereka cekcok. Suatu hari, seorang dari mereka berkata, “Bagaimana kalau hari ini kita mencoba untuk bertengkar?” Yang lain setuju, “Baik, mari kita pertengkarkan sepotong roti ini.” Lalu mereka bersiap-siap memulai pertengkaran itu. Orang pertama berkata, “Roti ini punyaku. Ini milikku semua.” Orang bijak kedua menyahut, “Tidak apa-apa. Silakan saja ambil semua.” Pertengkaran itu pun gagal.

Mari kita gagalkan pertengkaran dengan bersikap rendah hati dan hidup menurut hikmat Allah. Amin.

sumber http://4yub.blogdetik.com

.

Photobucket


Nama : LoLe KanTambaru

Jl. Basuki Rahmat

Di dalam hidup ini kita akan banyak menemui kegagalan karena itulah yang namanya hidup...
Namun, dari kegagalan itu kita dapat belajar terus untuk meperoleh keberhasilan...
Orang yang gagal adalah orang yang takut dan tidak pernah mencoba untuk melakukan segala sesuatu karena takut akan kegagalan itu sendiri...

Arti Sahabat

Amsal 17:17
"Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran."

Bacaan Kitab Setahun: Mazmur 43; Kisah Para Rasul 15; Keluaran 35-36

Suatu hari seorang rekan kerja saya menyetel sebuah lagu di komputernya. Lagu itu terasa tidak asing di telinga saya, tetapi tetap saya tidak tahu apa judul lagu yang sedang diputar. Akhirnya saya pun menanyakan kepada rekan kerja saya ini. "Lean on Me" itulah jawabnya. Karena saya tertarik dengan lagu itu, akhirnya saya mencari liriknya di internet dan ketemu.

Lagu tersebut ternyata adalah lagu lama yang dinyanyikan kembali oleh para pemain film "Glee" yang saat ini sedang naik daun di Amerika Serikat. Di dalam salah satu kalimat lirik lagu tersebut ada kata-kata seperti ini: "Lean me, when you're not strong And I'll be your friend" Bila diterjemahkan kata-katanya bunyinya kurang lebih akan sebagai berikut: "Bersandarlah padaku, ketika engkau sedang lemah dan Aku akan menjadi sahabatmu". Sebuah pesan yang sangat mendalam dan membuat saya semakin berkaca, sudahkah saya menjadi sahabat seperti itu?
Tidak ada satu pun di dalam dunia ini yang dapat menandingi kejujuran, kemurnian, bahkan kasih yang begitu nyata ketika kita membangun sebuah persahabatan seperti yang Tuhan Yesus lakukan. Setiap perkataan-Nya dan perbuatan-Nya menunjukkan bagaimana Dia adalah Pribadi yang tak perlu diragukan lagi sebagai sahabat.

Tuhan Yesus adalah teladan kita untuk menjadi sahabat yang sejati. Sahabat sejati tidak hanya ada di saat suka, tetapi memberikan pundaknya ketika sahabatnya itu sedih atau mengalami permasalahan. Sahabat sejati memberikan dirinya sebagai sandaran ketika sahabatnya sedang menumpahkan segala kegelisahan. Pertanyaan hari ini, apakah Anda mau menjadi sahabat seperti yang Tuhan Yesus telah tunjukkan? Biarlah ketika Allah melihat dari Surga ke bumi, ia melihat Anda menjadi sahabat yang seperti Dia rindukan.

Hanya kasih Allah yang dapat memampukan kita menjadi sahabat sejati bagi sesama.

MENGKOMSUMSI ROTI HIDUP

Yohanes 6:58
Oleh : pdp. Soelispramboedie,s.th

KEBUTUHAN DASAR Manusia diseluruh dunia ini adalah makanan dan minuman. Saking seriusnya,masarakat dunia membentuk organisasi dunia untuk memindangi masalah pangan ,salah satunya adalah FAO (Food and Agriculture Organitations) unitet nations atau perserikatan bangsa- bangsa. Secara teknologi pertanian,manusia berlomba menciptakan teknik pola tanam singkat dalam pola lahan terbatas dengan hasil panen maksimal. Selain itu, mereka mempelajari pola iklim dan perubahanya. Semua itu dilakukan manusia agar mereka bisa makan ,bertahan hidup(survive) diwilayah Negara masing-masing.
Dari sisi Alkitab, kebutuhan pokok manusia sudah mendapatkan perhatian dari Tuhan Allah sejak dunia diciptakan_Nya, ia menciptakan tumbuhan, hewan sebagai konsumsi manusia (Kej 1:11,21). Pada sisi lainya, ia menginginkan manusia dibumu ini mengkonsumsi makanan Rohani, yakni” Roti hidup”. “Kebingungan” segera merebak diantara para murid dan orang setempat ketika yesus menngatakan ‘’barangsiapa makan daging-ku dan minum darah-,ku ia mempunyai hidup yang kekal dan akan membangkitkan dia pada ahir zaman .sebab daging-ku adalah benar-benar makanan dan darah-ku adalah benar-benar minuman.barang siapa makan daging-ku dan minum darah-ku, ia tingal di dalam aku dan aku di dalam dia’’(yoh.6:54-56
Pemahaman para murid yesus hanya sebatas jangka pendek ,sesuatu yang kasatmata danmengyangkan perut.padhal yesus mempunyai jangkauan rencana masa depan yangluar biasa,yaitu kehidupan kekal sesuda kematian. ayang,para murit-nyatidak bisa memahamiperkataa kristus secara proposional.sesungunya,yesus tidak mengajak mereka menjadi pemakantuhan.
Rasa bingung dan ketidakmengertian para murid yesus berakibat mereka angkat kaki dari-nya dan kembali bergabung dengan sistem dunia (yoh.6:66),padahal yesus adalah sumber berkat jasmani dan rohani.langkah praktis untuk memperoleh dan memakan roti hidup (tubuh-Nya) dan minum darah-Nya ialah melalui membaca firmantuhan secara regular,beribada di gereja,saat teduh pribadi,percaya ia adalah tuhan dan juruslamat umat manusia dan taa melakukan segala perinta-Nya.
Hari-hari yang diisi dengan mengkomsumsi roti hidup akan mendatangkan kebaikan dan berkat yang melimpah

Kisah Nyata

Suatu hari ada serombongan pria, berjumlah tujuh orang yang tergabung dalam Full Gospel Bussinesman Fellowship International dari Boston hendak pergi ke suatu tempat untuk mengadakan pertemuan tahunan. Ketujuh pria ini sedang dalam keadaan panik karena mereka sedang ditunggu pesawat yang hendak menuju ke kota di mana pertemuan itu diadakan.
Dari jauh terdengar panggilan agar mereka segera naik ke pesawat, karena kalau tidak mereka harus menunggu lima jam lagi untuk keberangkatan berikutnya. Dan menunggu pasti adalah pekerjaan yang paling membosankan. Jadi ketika turun dari mobil, ketujuh pria ini berlari sekuat tenaga agar mereka tidak ditinggal pesawat. Sementara jarak dari lobby, ke ruang tunggu dan ke lapangan pesawat sangat jauh. Mereka saling berteriak satu sama lain agar berlari lebih kencang lagi supaya segera sampai ke pesawat. Tidak ada tujuan lain dalam benak mereka, selain berlari secepatnya sampai di pesawat dan tidak tertinggal.
Seperti biasa, di bandara Boston banyak sekali orang berjualan, termasuk seorang gadis kecil buta yang berjualan buah di pinggir koridor jalan menuju ke ruang tunggu. Ketika ketujuh pria itu sedang berlari sekencang-kencangnya, tiba-tiba salah satu dari mereka menabrak meja apel milik gadis kecil ini sehingga meja itu terbalik dan susunan apelnya jatuh berantakan ke lantai. Apel itu berserakan di lantai bahkan berguling-guling jauh meninggalkan meja gadis buta yang malang itu.
Sementara itu, tujuh pria itu terus berlari tanpa memperdulikan apa yang sudah terjadi. Mereka berkata, “Cepat, jangan pedulikan, kita akan segera tertinggal!” Mereka benar-benar tidak mau menunggu lima jam berikutnya. Sementara itu gadis buta yang malang itu menangis sambil meraba-raba mencari buah apelnya yang jatuh berserakan. Ia tampak begitu sedih. Sambil menangis ia berkata kepada orang-orang disekitarnya, “Help me! Help me!” Namun tidak ada seorangpun yang tergerak untuk menolongnya.
Namun tiba-tiba salah satu dari tujuh pria tadi, (bukan orang yang menabak meja gadis penjual apel itu), menengok ke belakang dan melihat gadis kecil itu sedang meraba-raba ke lantai sambil menangis, mencari buah apelnya yang berserakan. Tampak tidak seorangpun yang memperdulikan. Di tengah larinya yang kencang tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat gadis tersebut.
Sementara ke enam temannya sambil berlari berkata, “Ayo cepat! Kenapa kamu berhenti? Kita akan segera tertinggal!” Di tengah pergumulannya mau meneruskan perjalanan ini atau berbalik menolong gadis malang itu, akhirnya ia berkata kepada teman-temannya, “Kalian berangkat duluan saja, saya akan menyusul dengan pesawat berikutnya.”
Namun teman-temannya mengatakan bahwa pertemuan itu sudah dimulai jika ia harus menunggu lima jam lagi. Tapi sekali lagi ia berkata, “Tidak, kalian berangkat saja duluan, saya akan segera menyusul dengan pesawat berikutnya. Kalian berangkat saja sekarang!”
Akhirnya keenam temannya itu meninggalkan dia. Kemudian ia segera berlari menghampiri gadis kecil itu karena hatinya tidak tahan melihat kesulitan gadis itu. Pria ini kemudian segera membantunya memungut apel-apel itu. Setelah itu dia berkata kepada gadis kecil ini, “Saya minta maaf karena teman saya sudah menabrak meja apel Anda. Saya datang untuk menyusun kembali apel yang berserakan, dan sekarang apel tersebut sudah tersusun seperti semula. Tapi mungkin ada apel yang rusak. Saya tidak tahu berapa harga yang harus saya bayar untuk apel yang rusak itu, tapi terimalah pemberian ini”. Kata pria itu sambil mengeluarkan sejumlah uang. Pria itu telah menggantikan jauh lebih besar seandainyapun seluruh apel itu laku terjual. Kemudian sambil menangis dan terharu, si gadis kecil ini berkata, “Are you Jesus?” Are you Jesus, Sir?
Pertanyaannya, kapan terakhir kali kita mendengar kalimat itu di telinga kita? Gadis kecil buta itu hanya tahu dalam hidupnya bahwa orang yang baik itu adalah Yesus. Sebab itu ia bertanya, “Are you Jesus?” Karena baginya hanya orang yang namanya Yesus yang dapat berbuat seperti itu. Mungkin ia tidak kenal bahwa Yesus adalah Tuhan, tapi ia pernah mendengar bahwa ada Seseorang yang bernama Yesus. Orang itu adalah seorang pribadi yang suka menolong. Yang dapat menangis ketika melihat orang lain menangis.
Seringkali dalam hidup kita, kita sering lupa dengan orang-orang di sekitar kita yang sangat membutuhkan kita. Karena kita hanya terpaku mengejar keinginan kita, impian kita, ambisi pribadi kita atau mungkin target hidup yang sudah kita susun. Dan tidak boleh ada yang menghalangi kita untuk mencapainya. Sehingga kita lupa sebenarnya untuk apa dan untuk siapa kita hidup dan kita lupa siapa diri kita sebenarnya.
Kapan terakhir kali Anda mendengar sebuah kata terucap dari mulut seseorang yang sedang mengharapkan pertolongan, “Are you Jesus?
Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.(1Yohanes 2:6)

Saat Teduh-Quiet Time (Markus 1:35; Yohanes 15:5)

(Mrk. 1:35; Yoh. 15:5)
Setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, merupakan cabang/ranting yang menempel pada pokok Anggur yang benar. Ranting yang menempel pada pokok anggur akan mendapat aliran bahan makanan terus-menerus dan berbuah lebat.
Apa akibatnya bila ranting tersebut tidak menempel atau dipotong dari pokok anggurnya? Ranting tersebut akan layu, daunnya menguning dan kemudian mati kekeringan. Ranting yang menempel pada pokok anggur merupakan gambaran dari pentingnya hubungan pribadi kita dengan Tuhan setiap hari, yang biasa disebut dengan HPDT/Saat Teduh. Hubungan/ persekutuan ini akan memberikan makanan dan kekuatan bagi kita untuk bertumbuh dan berbuah di dalam kehidupan ini.
”Saat teduh” adalah waktu khusus yang disediakan bagi Tuhan setiap hari. Dalam waktu teduh ini kita berjumpa dengan Tuhan, berbicara dengan Tuhan dalam doa, membaca, merenungkan dan melakukan apa yang akan dikatakan/difirmankan Tuhan melalui firman-Nya. Saat teduh adalah persekutuan yang indah dengan Tuhan setiap hari dan merupakan penyerahan diri secara baru pada hari itu.
Bersaat teduh dengan Tuhan setiap hari mungkin merupakan aspek kehidupan Kristen yang paling banyak dipromosikan, namun paling sedikit dipraktekkan. Mengapa? Ada banyak faktor penyebab mengapa orang-orang tidak bersaat teduh secara rutin. Ada faktor kemalasan. Ada yang beralasan sibuk dengan kegiatan sehari-hari. Ada juga yang beralasan tidak tahu cara membaca Alkitab dengan benar. Ada juga yang mengalami kesulitan dalam memahami berita Alkitab dari masa lalu untuk diterapkan pada masa kini. Dan sejumlah alasan lainnya.
1. Mengapa bersaat teduh?
Sedikitnya ada lima alasan mengapa kita perlu bersaat teduh? Alasan pertama adalah teladan Tuhan Yesus. Selama pelayanannya di muka bumi ini, Tuhan Yesus bangun pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap, dan pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa (Mrk 1:35). Karena alasan tertentu, Tuhan Yesus merasa bahwa saat teduh itu lebih penting daripada satu atau dua jam untuk tidur, atau menyembuhkan atau berkhotbah. Jika Tuhan Yesus saja memerlukan saat teduh, apalagi kita.
Alasan kedua Tuhan merindukan persekutuan dengan kita. Ini adalah suatu hal yang luar biasa, bahwa pencipta langit dan bumi benar-benar menginginkan persekutuan dengan ciptaan-Nya. Raja alam semesta ini ingin menyatakan diri-Nya dan kasih-Nya kepada kita setiap hari.
Alasan ketiga, tanpa saat teduh yang teratur, kita tidak dapat bertumbuh dalam iman. Orang-orang saleh yang dipakai Tuhan dari abad ke abad, semuanya mempunyai saat teduh yang teratur. Misalnya: Daniel telah menjadi seorang perdana menteri di sebuah kerajaan besar, tetapi ”tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya” (Dan 6:11). Musa yang bertanggung jawab memimpin 2 juta orang Yahudi dalam perjalanan melewati padang gurun selama 40 tahun mendapatkan kebijaksanaan dan kekuatan melalui waktu yang diluangkan bersama Allah, sebagai saat pertemuan antara 2 orang bersahabat. Daud, seorang tokoh perang dan raja yang terkenal, senantiasa meluangkan waktu bersama Allah. Kitab Mazmur berisi catatan harian saat teduhnya bersama Allah.
Alasan keempat, saat teduh membuat kita peka. Mzm 25:14, ”TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya/maksud-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.” Hubungan pribadi yang akrab dengan Tuhan akan menimbulkan kepekaan di dalam diri kita terhadap kehendak Tuhan. Kepekaan dan pemahaman akan kehendak Allah akan menghasilkan perubahan sikap dan karakter di dalam kehidupan kita.
Alasan kelima, karena Alkitab itu memiliki banyak manfaat yang penting di dalam kehidupan orang percaya. Dalam 2 Tim. 3:16, diungkapkan beberapa manfaat dari Alkitab, yaitu:
o Mengajar. Apa yang diajarkan oleh Alkitab? Tentu saja kita dapat belajar tentnng Allah yang menyatakan diri, karya dan kehendak-Nya sampai saat ini kepada umat manusia. Kita pun dapat belajar tentang respon manusia, baik yang positif maupun negatif, terhadap Allahnya.
o Menyatakan kesalahan Di dalam Alkitab terdapat kebenaran yang sifatnya universal dan kekal. Oleh karena itu, dengan membaca yang benar (Alkitab), maka kita dapat tahu apa yang salah. Saat teduh mengoreksi kehidupan kita.
o Memperbaiki kelakuan. Dengan mengetahui apa yang salah, maka kita diajak untuk memperbaiki kelakuan kita Tidak hanya kelakuan bahkan, tetapi juga pola pikir dan tutur kata kita juga.
o Mendidik orang dalam kebenaran. Ini adalah fungsi yang tidak kalah pentingnya. Sebagai orang percaya, kita diharapkan untuk setia pada kebenaran dan karenanya berupaya untuk hidup dalam kebenaran itu. Alkitab dapat menolong kita untuk mengenal kebenaran dan mendidik kita untuk setia pada kebenaran.
2. Waktu dalam bersaat teduh
Sebenarnya tidak ada waktu yang paling baik dalam bersaat teduh, karena pada dasarnya kita dapat membaca dan merenungkan Firman Tuhan kapan saja. Sekalipun demikian, pemilihan waktu yang tepat akan sangat menentukan proses saat teduh yang kita lakukan. Kalau begitu, kapan waktu yang tepat itu? Tentu itu tergantung dari diri kita masing-masing. Yang penting, ada suasana teduh dan tenang saat kita bersaat teduh. Suasana yang demikian akan sangat menolong kita untuk berkonsentrasi dan mendapat sesuatu dari Firman yang kita baca (bnd. Mat. 6:6).
Dalam Mrk. 1:35, dikisahkan tentang Tuhan Yesus yang berdoa pada pagi-pagi sekali sewaktu hari masih gelap. Tempat yang dipilih pun adalah tempat yang tenang. Di situlah Ia dapat berkonsentrasi dalam bersaat teduh untuk mendapatkan kekuatan spiritual guna melanjutkan karya-Nya di dunia.
Bukan berarti bahwa kita harus bersaat teduh pada pagi-pagi sekali, sama seperti Tuhan Yesus, karena Tuhan Yesus juga biasa berdoa pada malam hari (Mat. 14:23, ”Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ”). Oleh karena itu, yang penting bukan kapannya, tetapi waktu yang tepat; tepat karena ada suasana teduh dan tenang, tepat karena kita bisa dengan sungguh-sungguh membaca Alkitab untuk mencari tahu apa kehendak-Nya bagi kita, tepat karena kondisi fisik kita masih memungkinkan untuk berdoa kepada-Nya. Kalau waktu yang tepat itu adalah pagi hari, ya… lakukanlah pada pagi hari. Kalau waktu yang tepat itu adalah malam hari, sebelum tidur, ya… lakukanlah pada malam hari. Yang penting, kita tetap melakukan saat teduh di waktu yang tepat.
3. Tempat bersaat teduh
Sejalan dengan pembahasan di atas tentang waktu dalam bersaat teduh, maka tidak ada tempat yang paling baik dalam bersaat teduh. Dalam Alkitab, Tuhan Yesus berkali-kali berdoa di sebuah bukit, di tempat yang sunyi (bnd. Mat. 14:23; Mrk. b:46; Luk. 6:12). Mengapa bukit menjadi tempat favorit-Nya? Yang pasti, bukit dipilih bukan karena tempat itu lebih tinggi dan karenanya lebih dekat ke sorga atau dengan kata lain doanya lebih cepat didengar oleh Allah Bapa.
Tempat itu dipilih karena menyediakan suasana yang teduh dan tenang. Suasana itu adalah prasyarat bagi saat teduh yang baik dan berkualitas. Lagipula, dalam kesempatan yang lain, Tuhan Yesus menyuruh para pendengar-Nya untuk berdoa di kamar yang terkunci (Mat. 6:6). Di balik pengajaran itu, sebenarnya terkandung pemahaman bahwa saat teduh itu harus dilakukan dalam suasana yang teduh, tenang, serta bukan dalam semangat untuk memamerkan kepada orang lain bahwa diri kita adalah orang yang saleh, yang ditunjukkan dengan seringnya berdoa (bersaat teduh). Jadi, dapat dikatakan bahwa tempat yang baik dalam bersaat teduh adalah tempat yang menyediakan suasana teduh dan tenang. Oleh karena itu, kita tidak terikat pada kamar di rumah kita. Kita juga bisa bersaat teduh di villa saat retreat pribadi misalnya. Hal yang penting adalah bahwa tempat itu haruslah mendukung kita bersaat teduh secara berkualitas.
4. Langkah-langkah praktis dalam bersaat teduh
Sebenarnya, ada sejumlah langkah praktis untuk melakukan saat teduh, misalnya: diawali dan diakhiri dengan nyanyian. Tetapi secara umum, bersaat teduh dapat dilakukan dengan langkah demikian:
a. Berdoalah. Sebelum kita membaca dan merenungkan Firman Tuhan, diharapkan kita berdoa terlebih dahulu. Kita berdoa supaya Roh Kudus memberi penerangan kepada kita, sehingga bagian Alkitab yang kita baca sungguh-sungguh memberi arti dan makna bagi hidup kita. Kita pun dimampukan untuk memahami berita Alkitab dari masa lalu untuk diterapkan pada masa kini. Jadi, untuk memahami isi Alkitab diperlukan bantuan Allah sendiri, tidak bisa dan tidak boleh bergantung pada pengertian diri sendiri.
b. Bacalah. Saat ini, ada daftar bacaan harian yang diterbitkan oleh LAI selama setahun (biasanya juga dicantumkan dalam warta jemaat mingguan). Atau, kalau kita tidak mempunyainya, kita dapat memanfaatkan daftar bacaan yang tertera dalam buku renungan yang biasa kita pakai (spt: Saat Teduh, Renungan Harian, Santapan Harian, dsb). Dalam membaca Aikitab, tentu kita tidak boleh tergesa-gesa, sehingga kita tidak bisa menangkap maknanya. Membaca Alkitab tidak sama seperti membaca buku komik, yang dapat dibaca sekilas saja.
c. Renungkanlah. Seusai kita membaca Alkitab, ada baiknya kita merenungkan terlebih dahulu hal-hal di bawah ini. Ada baiknya kita tidak langsung membaca buku renungan yang kita punyai. Buku itu hanya menolong kita saja. Oleh karena itu, yang penting adalah proses pemaknaan secara pribadi terhadap teks Alkitab yang kita baca. Pertanyaan-pertanyaan berikut ini dapat menolong kita untuk merenungkan teks Alkitab itu secara pribadi, yaitu:
 Apa saja yang kubaca. ada peristiwa apa? Hal apa yang menarik? Siapa yang menjadi tokoh atau pusat berita? Adakah kaitan dengan ayat atau perikop sebelumnya?
 Apa pesan yang Allah sampaikan kepadaku melalui nas tadi. adakah janji terungkap di sana? Apakah Allah memberi peringatan dalam ayat itu? Adakah teladan yang bisa kita pelajari? Dst.
 Apa responku adakah hal-hal spesifik dalam hidupku kini yang disoroti oleh pesan Firman Tuhan tsb.? Apa responku terhadap firman itu agar menjadi bagian dari hidupku?
d. Bandingkanlah hasil perenungan pribadi kita dengan buku renungan yang kita miliki. Kalau ternyata hasilnya berbeda, jangan kecil hati. Bukan berarti kita salah dalam memahami pesan Firman Tuhan. Perbedaan itu justru memperkaya pemahaman yang bisa kita dapat dari teks Alkitab yang dibaca.
e. Berdoalah kembali di akhir perenungan kita. Kita berdoa supaya pesan Firman Tuhan itu dapat terus kita ingat dan lakukan. Kita pun boleh mendoakan berbagai hal lainnya, spt: kegiatan di sepanjang hari yang akan kita lalui (kalau saat teduh dilakukan pagi hari); kegiatan yang sudah kita lakukan (pada malam hari); keluarga yang kita kasihi dsb.
f. Periksalah apakah kita sudah melakukan pesan Firman Tuhan itu dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita bersaat teduh di pagi hari, maka kita dapat memeriksa diri kita pada malam harinya. Jika kita bersaat teduh di malam hari, maka kita dapat memeriksa diri pada keesokan malamnya saat kita bersaat teduh kembali. Langkah ini menjadi penting, sebagai proses evaluasi diri dan juga mengingatkan kita untuk terus termotivasi melakukan dan memberlakukan Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Penutup: Clip ”Priority”
Apakah kita terlalu sibuk? Warren dan Ruth Myers di dalam bukunya yang berjudul ”How to Have A Quiet Time?” mengatakan, “Bila Allah benar-benar penting bagi kita, kita pasti akan menyediakan waktu bagi Dia. Kalau tidak, kita adalah orang Kristen yang gagal.” Langkah untuk memulai saat teduh adalah tindakan. Karena kita berada dekat dengan Tuhan sedekat yang kita sendiri pilih, bukan sedekat yang kita inginkan.” Cerah atau mendungnya kehidupan kita sepanjang hari itu, tergantung bagaimana kita mengawalinya. Oleh karena itu marilah kita mengawali hari-hari kita bersama dengan Tuhan di dalam saat teduh. Amin
Penginjil Robert Summer dalam bukunya yang berjudul, “The Wonder of the Word of God” menceritakan tentang seorang warga Kansas, korban ledakan. Ia tidak menyebutkan namanya. Hanya dikatakannya wajahnya rusak, matanya menjadi buta, dan kedua tangannya putus. Ia baru saja menjadi seorang Kristen. Kekecewaan terbesarnya adalah kondisinya tidak lagi memungkinkannya meneruskan kesukaannya membaca Alkitab.
Pada suatu hari, ia mendengar mengenai seorang wanita di Inggris yang dapat membaca huruf braille dengan memakai bibirnya. Dengan harapan dapat melakukan hal yang sama, dia memesan Alkitab dalam huruf braille. Tetapi ternyata dia mendapati bahwa syaraf pada ujung bibirnya pun tidak dapat berfungsi (tidak peka) lagi sebagaimana mestinya. Jadi, ia tidak dapat membedakan huruf-huruf braille itu. Dalam keputusasaan, ia terus mencoba dan mencoba. Hingga pada suatu hari, ketika ia sedang mencoba membaca huruf-huruf braille dengan bibirnya, lidahnya secara tidak sengaja menyentuh beberapa huruf. Betapa kaget dan senangnya dia, “Aku dapat membaca dengan lidahku.” Saat kisah ini diceritakan Summer, orang itu sudah 4 kali membaca seluruh Alkitab dengan menggunakan … lidahnya.

Diary Seorang Pramugari

Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.
Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya. Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking , penumpang sangat penuh pada hari ini.
Di antara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya, pada saat itu saya yang berdiri di pintu pesawat menyambut penumpang kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.
Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketika melewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku di tempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.
Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakan karung tua di atas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang di tempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.
Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut  apakah di pesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang di dalam pesawat.
Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang di sebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakan segelas minuman teh di meja dia, ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan di pinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir.
Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minunam kepada penjual makanan di pinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.
Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah di tingkat tiga di Peking . anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal di kota akhirnya pindah kembali ke desa, sekali ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking, anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama-sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya.
Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan di bandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh di tempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakan karung tersebut.
Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil? dan meminta saya meletakan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.
Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa di mata seorang desa menjadi begitu berharga. Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri, perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.
Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian.
Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seseorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.
Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya dimasa datang yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.
http://4yub.blogdetik.com

Rindu Melahirkan

Semua uraian diambil dari Kejadian 30:1-24. Ketika berjalan-jalan, Ruben mendapatkan buah dudaim. Buah itu diberikan kepada Lea. Beberapa buah itu diminta Rahel tetapi ditolaknya. Mengapa? Selain sudah tinggal bersama Yakub, Rahel ingin dudaim pula. Karena Lea menolak, Rahel pun menawarnya. Mereka pun sepakat. Lea tinggal dan tidur dengan Yakub, sementara Rahel mendapat buah dudaim.
Sebenarnya, makan buah dudaim merupakan salah satu cara agar mempunyai anak. Dalam kasus ini, kata “mempunyai” harus diperjelas. Mempunyai karena memerintah budak perempuan atau melahirkan anak kandung.
Setelah empat anak Lea lahirkan dan karena Rahel mandul, tak seorang anak pun mereka lahirkan. Karena itu, Bilha dan Zilpa diberikan supaya diperistri Yakub. Namun meski Dan, Naftali, Gad, Asyer anak budak, Bilha dan Zilpa tidak boleh mengklaim anak kandung mereka sebagai anak sendiri. Mengapa? Karena semata-mata melaksanakan perintah dan nama yang tidak diberikan ibu kandung, anak kandung mereka menjadi milik Lea dan Rahel.
Usaha agar melahirkan anak adalah doa dan makan buah dudaim. Doa Rahel adalah doa permohonan karena kemandulannya. Doa Lea adalah ucapan syukur karena Yakub lebih cinta kepada Rahel tetapi Allah bela sehingga Lea beranak empat.
Karena kondisi yang tidak memungkinkan, Lea mempertahankan atau Rahel meminta buah dudaim. Mengapa? Di Timur Dekat buah dudaim dipahami sebagai simbol birahi karena akar kata yang membentuknya, yaitu dod (love) dan duda’im (apple-love). Buah ini merangsang nafsu birahi dan mengobati kemandulan. Karena khasiatnya, mereka hendak makan buah itu. Namun karena kesepakatan, buah itu dimakan Rahel.
Lea-Rahel sangat berhasrat mempunyai anak. Hasrat ini menjadi semacam “persaingan”. Andaikan dianggap “persaingan”, Lea berhasil “memenangkan” karena tujuh anak telah dilahirkan dan dibela Tuhan karena sikap diskriminatif Yakub yang lebih mencintai Rahel. Namun, di atas semua itu, hasrat mereka adalah mendapatkan cinta karena cinta membuat orang lain  menerimanya. Dalam kasus ini hasrat cinta terpenuhi bukan hanya ketika bersuami, melainkan juga mampu melahirkan anak.

Sumber: Renungan Malam, Maret 2010

Atribut Allah

Hari ini saya ingin bicara tentang Tuhan. Siapakah Tuhan? Mungkin yang paling mendalam dan istilah yang paling disalahpahami di dunia adalah istilah untuk Tuhan. Saya yakin bahwa di jantung masalah spiritual yang paling adalah kesalahpahaman dari Allah. Banyak ajaran sesat agama adalah hasil dari kesalahpahaman Allah. Daniel 11:32 berkata, "Dan orang-orang yang mengenal Allah mereka harus melakukan eksploitasi besar." Ketika kami datang untuk benar memahami Tuhan, maka kita bisa mempercayai-Nya dan melihat hal-hal besar terjadi.
Namun di sini adalah masalah yang membuat banyak dari kita dari hubungan yang benar dengan Bapa surgawi kita. Mazmur 50:21 mengatakan, "Kau pikir aku seperti kamu." Kami proyek pada Bapa Surgawi kita citra ayah duniawi kita. Jika ayah kita di dunia tidak menghabiskan waktu bersama kita, sulit untuk tumbuh dewasa dan berpikir "Ya Bapa Surgawi ingin menghabiskan waktu dengan saya." Jika ayah duniawi kami tidak akan mendengarkan kita, sulit untuk berpikir "Ya Bapa Surgawi ingin mendengarkan saya. "
Saya telah belajar satu hal selama ini, Bapa Surgawi saya jauh berbeda dari ayah duniawi saya. Saya berterima kasih kepada Tuhan untuk itu karena ayah duniawi saya seorang pecandu alkohol dan sangat kasar secara verbal dan emosional. Akibatnya saya diproyeksikan bahwa pada saat saya Surga Bapa, dan bahwa adalah salah satu hambatan bagi saya benar-benar datang kepada Kristus.
Sekarang pertanyaannya adalah: Siapa Allah? Allah telah menyatakan diriNya dalam tulisan suci. Dia telah menyatakan dirinya melalui kita menunjukkan atribut-Nya. Atribut adalah sesuatu yang benar dari Allah dalam sifat dasar-Nya. Jadi ketika kita mengatakan Allah adalah kasih, Dia hanya sedang sendiri. Mari kita lihat beberapa atribut-Nya.
Yang pertama adalah ini - Allah telah menyatakan diriNya sebagai Mahakuasa, semua kuat. Setiap kali saya melihat kata mahakuasa saya berpikir, "Dia bisa melakukannya." Dan tulisan suci menunjukkan bahwa Ia berbicara kepada apa-apa dan sesuatu "Dia ruleth atas semua kerajaan orang kafir dan tidak ada yang terlalu besar bagi Allah." datang ke keberadaan. Sekarang bagaimana hal ini mempengaruhi kita dalam kehidupan pribadi kita dan berjalan dengan Kristus? Hal ini memungkinkan saya untuk berdoa untuk hal-hal yang saya tidak akan pernah bermimpi berdoa karena jika aku tidak tahu Dia bisa melakukannya. Kedua, ketika Anda benar-benar lelah, Dia memberi kekuatan kepada yang lelah.
Beberapa tahun yang lalu saya berbicara di konferensi dan aku punya dua minggu pertemuan berat. Seminggu sebelum kebangkitan yang sesungguhnya terjadi dan aku lelah. Dan aku duduk di sana bahwa Sabtu pagi dan aku mulai menangis. Saya hanya berkata, "Tuhan, aku tidak bisa melakukannya. Saya sangat lelah. Aku bahkan tidak punya energi untuk bangkit dari kursi ini dan berjalan ke podium yang apalagi memberikan bicara jam "Dan aku hanya berkata,". Tuhan, tolonglah aku. "
Sesuatu terjadi ketika mereka mulai bertepuk tangan dan berkata, "Ini Josh McDowell." Kekuatan datang ke dalam diriku, aku berdiri dan aku berjalan ke podium itu dan mungkin diberikan energi hampir lebih selama satu jam daripada yang saya alami dalam bicara. Kemudian, aku berkata, "Tuhan, aku tidak bisa percaya. Tapi Anda bisa "Saya tidak bisa mengatakan berapa kali dalam hidup saya, saya harus meminta kekuatan itu..
Alkitab mengatakan bahwa Allah tidak hanya mahakuasa, Dia adalah mana-mana, semua yang hadir. Ini adalah ungkapan yang saya gunakan, Itu berarti tidak ada gunanya lebih dekat kepada Tuhan daripada titik lain "Dia di sini.". Psalms139 berkata, "Dimana saya bisa pergi dari roh Mu, atau di mana saya dapat bersembunyi dari hadapan-Mu? Jika saya naik ke surga, Engkau ada. Jika saya naik ke Sheol engkau di sana. Jika saya mengambil sayap burung merpati dan jika saya diam di bagian terpencil laut, bahkan ada tangan-Mu akan pegangan saya dan tangan kanan-Mu akan meletakkan memegang aku "adalah. Allah segera dapat diakses di manapun Anda berada.

 
Sekarang Alkitab mengatakan untuk mendekatkan kepada Allah. Bagaimana Anda menggambar dekat kepada Allah jika tidak ada gunanya lebih dekat dengan Tuhan daripada titik lain? Ketika berbicara tentang gambar dekat kepada Allah, adalah berbicara tentang pengalaman Anda, bukan posisi Anda. Saya memiliki hak istimewa yang menikah dengan Dottie selama dua puluh sembilan tahun, dan saya masih belajar tentang hal-hal Dottie. Kami sedang ditarik lebih dekat bersama, tidak secara fisik dalam posisi, namun dalam pengalaman emosional. Ketika Tuhan berkata untuk mendekat pada Allah, Dia tidak mengatakan lebih dekat fisik dalam posisi tetapi lebih emosional dalam pengalaman Anda.
Kemudian Alkitab mengatakan bahwa Allah adalah Maha Tahu, yang berarti "Dia tahu itu." Kata Mazmur 139, "Oh Tuhan, Engkau telah mencari saya dan kenal saya. Sesungguhnya Engkau tahu kapan aku duduk dan ketika aku bangkit. Sesungguhnya Engkau mengerti pikiranku dari jauh dan engkau doesth meneliti jalan saya dan berbaring ke bawah dan sangat erat berkenalan dengan segala cara saya. Engkau telah menyertakan aku di belakang dan sebelum dan meletakkan tangan-Mu kepadaku, pengetahuan tersebut terlalu bagus untuk saya "tahu. Dia setiap pikiran. Allah hanya bukan Allah realitas, Dia adalah Tuhan dari semua kemungkinan.
Seluruh hidupku berpusat di sekitar sekolah hukum. Saya mendapat beasiswa penuh, tapi aku tidak yakin bahwa itu keinginan utama Tuhan untuk saya. Karena mengetahui bahwa Dia mahatahu itu membantu saya untuk membuat keputusan itu. Saya berkata, "Tuhan di sini adalah hidup saya, pasangan masa depan saya, profesi masa depan saya. Berikut segalanya untuk masa depan saya "Apa yang membantu membuat keputusan itu. jadi lebih mudah adalah bahwa saya tahu Tuhan tahu semua kemungkinan hidup saya dan karena Dia mengasihi saya, Dia memilih yang terbaik.
Saya tidak memiliki rasa takut kerangka apapun datang menerjang keluar dari lemari dalam hubungan saya dengan Tuhan. Jika ada kerangka setiap ada istri saya tidak akan tahu, Tuhan tahu itu. Dia berkenalan dengan semua keintiman dalam hidup saya. Karena "Dia tahu itu", aku tidak takut bahwa ada beberapa kelemahan yang tidak diketahui dalam hidup saya yang akan menghancurkan hubungan saya dengan Tuhan atau Dia pernah menggunakan saya. Dia tahu semua kelemahan dan Dia masih mencintaiku dan menggunakan saya.
Kemudian Allah adalah kekal. Dia tidak pernah berubah. Maleakhi 3:06 mengatakan, "Akulah TUHAN. Saya mengganti tidak. "Kuasa-Nya tidak pernah bisa mengurangi ataupun kemuliaan-Nya pernah pudar. Dia selalu akan sama. Hal ini mendorong saya untuk berdoa, tidak berpikir, "Hari ini Dia mungkin mendengar doa saya, besok Dia tidak akan." Dia adalah kemarin, hari ini, sama dan besok. Saya tahu setiap hari Dia akan mendengar doa-doa saya jika saya datang di kemurnian dan iman di hadapan-Nya. Saya tidak perlu khawatir jika saya akan menemukan Tuhan dalam suasana hati yang reseptif maupun tidak. Dia tidak pernah berubah.
Sebagai manusia, kita proyek hubungan duniawi kita kepada Bapa Surgawi kita atas kebenaran alkitabiah. hubungan saya dengan ayah saya, kota beralkohol, penyalahgunaan fisik ibu saya, pelecehan verbal tentang saya dan anak-anak lain, sehingga ditanamkan citra negatif dari seorang ayah bahwa ketika orang akan berbicara kepada saya tentang Bapa Surgawi mereka, saya tidak bisa ' t pegang itu. Dengan hari ini banyak orang, orang nomor satu penghalang untuk datang kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan adalah gambar ayah duniawi mereka. Karena Seperti Tuhan berkata, kamu melihat saya sama sekali seperti yang Anda lihat sendiri. Dan salah satu doa saya adalah bahwa ketika kita melalui siapa Tuhan, Dia mungkin menjadi ayah Anda, tetapi Dia bukan orang tua Anda. Dia benar-benar berbeda dari ayah duniawi kita.

oleh Josh McDowell Album: Perjalanan Menuju Allah 

PENEGAK HUKUM BERHATI NURANI

Berbagai praktik peradilan di negeri ini telah menciderai rasa keadilan masyarakat. Apa yang secara formal-legal tampak sesuai ketentuan UU dan hukum positif belum tentu mengekspresikan perasaan keadilan warga negara. Kasus-kasus korupsi yang dihukum sangat ringan menjadi contoh bagaimana para penegak hukum lebih mementingkan formalisme hukum daripada tuntutan keadilan.
Kenyataan seperti inilah yang melatarbelakangi tulisan Amir Mudzakkir berjudul Ketika Hukum Menciderai Keadilan di harian ini (Kompas, 28/12/2010). Cara pembahasannya tampak rumit karena menyitir sebagian besar filsuf politik dengan konteks pemikiran yang berbeda, tetapi bangun argumentasinya sangat sederhana. “Mengapa keadilan sebagai salah satu keutamaan moral tampak menjauh dari praktik penegakan hukum di negeri ini?” Menjawab pertanyaan ini, Amir Mudzakkir mendeteksi dua kemungkinan mengapa praktik hukum di negeri ini tampak lebih formal-legal daripada adil.
Kelemahan Kontrak Sosial
Kontrak sosial sebagai proses politis melegalisasi keadilan disinyalir sebagai salah satu penyebab terciptanya jurang antara formalisme dan keadilan hukum persis ketika veil of ignorance (tirai tanpa pengetahuan) sebagaimana diprasyaratkan John Rawls dalam proses legislasi (baca: kontrak sosial) disusupi kepentingan sektarian para peserta kontrak sosial.
Hanya saja tidak begitu jelas apa yang ingin dikatakan Amir Mudzakkir ketika menyitir Kant dan Pascal. Betul apa kata Pascal, juga Hobbes atau bahkan Emmanuel Levinas dan Paul Ricoeur, bahwa pada dasarnya setiap individu bersifat selfish, mengutamakan kepentingan diri dan kelompok. Kalau memang kontrak sosial prosedural Rawlsian mau dirujuk sebagai medium ideal menjembatani diskrepansi hukum dan keadilan, maka antropologi para filsuf ini sebenarnya adalah pengingat dan penegas pentingnya veil of ignorance. Kalaupun veil of ignorance terpenuhi, Amir Mudzakkir tidak bisa menyimpulkan bahwa “…keadilan dalam hukum adalah sebuah permintaan sosial, diputuskan oleh suara terbanyak, bukan lagi sebuah kebajikan” (alinea 10). Keputusan yang dihasilkan dalam kontrak sosial semacam ini tidak berdasarkan suara terbanyak, tetapi sebuah konsensus rasional dan imparsial berbagai pihak yang ikut di dalamnya.
Tidak sepenuhnya benar bahwa John Rawls membangun teori kontrak sosial berbasis pada pemikiran Immanuel Kant. Bagi Rawls, pandangan Kant mengenai individu yang otonom, bebas, dan rasional, yang tidak tunduk pada otoritas eksternal apapun, termasuk pandangan politik, nilai atau ideologi tertentu, sangat bermanfaat sebagai syarat formal terjadinya kontrak sosial. Meskipun demikian, gagasan kontrak sosial keduanya sangat berbeda. Pandangan Kant bahw “united will” dari para pengambil keputusan sebagai yang mencerminkan kehendak siapa pun juga individu rasional, otonom, dan bebas yang tidak ambil bagian dalam kontrak sosial justru dapat berbahaya persis ketika prasyarat veil of ignorance sendiri tidak kebal terhadap upaya penyusupan berbagai kepentingan.
Deteksi kedua atas diskrepansi hukum dan keadilan ada pada level praktik pengadilan itu sendiri. Logis saja menyimpulkan bahwa legislasi UU dan hukum yang ditunggangi berbagai kepentingan akan semakin menjauhkan keadilan dari hukum positif. Bahkan kalaupun kontrak sosial Kantian yang dipakai, “united will” peserta diskursus yang mencerminkan prinsip keadilan universal tetap sulit dicapai ketika kadar rasionalitas, tingkat otonomi, atau kalkulasi kepentingan utilitaristik bersifat konstitutif dalam diri setiap individu.
Mari kita berasumsi bahwa proses legislasi UU atau hukum memang tidak bisa bebas seratus persen dari kepentingan nilai, politis, atau ideologis. Akibatnya jelas, UU atau hukum formal yang dihasilkan dalam praktiknya lebih pro pada kepentingan tertentu yang tampaknya memang formal-legal, tetapi tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat. Pertanyaannya, dalam keadaan demikian, apakah penegak hukum masih bisa bertindak adil?
Mungkin saja Kant bisa menjawab pertanyaan ini, terutama menggunakan imperatif kategoris kedua yang melarang seseorang memperlakukan orang lain semata-mata sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu. Filsuf-filsuf politik lain yang dirujuk Amir Mudzakkar dalam tulisannya—Spinoza, Hobbes, Locke, Rawls, termasuk Andre Comte-Sponville yang sebenarnya bukan filsuf politik—tidak menyajikan jawaban memadai.
Pentingnya Suara Hati
Menurut saya, Paul Ricoeur termasuk satu dari sedikit filsuf politik yang menjawab pertanyaan ini secara meyakinkan sekaligus mensintesakan berbagai tradisi pemikiran mengenai kontrak sosial (Lihat Paul Ricoeur, The Just, The University of Chicago Press, 2000, hlm. 146-155). Bagi Ricoeur, meskipun tidak adil, hukum positif tetap harus ditaati karena perannya sebagai interdiction dalam arti sebagai otoritas eksternal yang menuntut ketaatan demi mencegah terjadinya kekacauan sosial. Dalam arti itu, setiap produk hukum, meskipun tidak bebas sama sekali dari berbagai kepentingan, tetap harus bersifat formal dan universal. Sifat formal dan universal adalah dimensi objektif hukum yang melampaui berbagai interes individu atau kelompok.
Paul Ricoeur kemudian menambahkan unsur suara hati (conscience)—setelah interdiction dan prinsip hukum yang formal-universal—sebagai yang sanggup mewujudkan hukum yang formal dan positivistik sekaligus adil (Paul Ricoeur, 2000: 151-152). Dalam pemahaman Ricoeur, jika penegak hukum hanya mementingkan aspek interdiksi dan prinsip universalitas hukum, maka dia bertindak legal, tetapi belum tentu adil. Sementara itu, memutuskan perkara dengan suara hati justru pertama-tama memperhatikan aspek interdiksi dan universalitas norma hukum, tetapi kemudian menaruh hormat (respect) pada pihak-pihak yang berkepentingan sebegitu rupa sehingga sanksi yang diberikan tidak sekadar legal-formal, tetapi sekaligus mencerminkan rasa hormat (respect) itu. Rasa hormat (respect) bergema dari dalam suara hati yang ketaatan padanya dapat saja diabaikan, tetapi sama sekali tidak bisa didiamkan. Suara hatilah yang mendesakkan phronesis (kebijaksanaan praktis) dalam setiap keputusan hukum, sehingga penegak hukum dapat menjatuhkan putusan secara adil, meskipun bisa saja berbeda dengan ketentuan hukum formal-legal yang ada.
Dalam arti ini saya setuju sepenuhnya pada kesimpulan akhir Amir Mudzakkir, bahwa kepastian hukum harus tetap dijunjung tinggi. Tetapi diskrepansi hukum yang formal-legal dengan hukum yang adil dapat dijembatani bukan sekadar “menekan institusi politik agar bekerja serius menuntaskan kasus-kasus hukum” di negeri ini. Institusi politik dan para politisi tidak bisa membebaskan dirinya dari berbagai kepentingan, karena itu mustahil mengharapkan mereka menjadi agen perubahan. Harapan besar justru harus diberikan pada para penegak hukum, yang karena kemandiriannya dalam kekuasaan Trias Politica, agar selalu melibatkan suata hati sebagai otoritas moral yang penting dalam setiap pengambilan keputusan hukum. Kita mengingatkan para penegak hukum, bahwa melalui desakan suara hati itulah bergema pula suara untuk menegakkan keadilan di atas rumusan hukum legal-formal.
Persis di titik inilah kita berdiri terpaku dan heran: “Akankah datang para penegak hukum berhati nurani?”
(Penulis dosen Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta. Dapat dihubungi di email: yeremias.jena@gmail.com)

TUKANG POS YANG MENYELAMATKAN NATAL

Malam Natal adalah peristiwa meriah di rumah Schow di Cardston, Alberta, Kanada. Tradisi sungguh-sungguh terasa ketika kedelapan anaknya yang berusia 3 sampi 16 tahun mondar-mandir untuk membantu ibu mereka, Ingeborg, dalam persiapan masa Natal. Ibuku, Ruth baru berumur 8 tahun pada saat itu. Tetapi, ia masih ingat kejadian itu sampai saat ini. Biasanya, Natal selalu dilengkapi dengan Schow Danish fudge dan toffee. Schow Danish fudge adalah sejenis permen coklat yang lunak dari Denmark dan dibuat oleh keluarga Schow, sedangkan toffee adalah sejenis permen yang dibuat dari gula dan mentega. Toffe terbuat dari permen yang lentur dan bisa ditarik.
Di tengah-tengah kegembiraan, tiba-tiba pintu belakang terbuka dengan suara keras. Angin yang sangat dingin berhembus masuk dan salju pun menyerbu ke dalam dapur yang nyaman. Sidney, 15 tahun, baru saja kembali dari tugasnya yakni mengantar koran. Ia sangat kedinginan dan akhirnya ia merasa senang karena berada di kehangatan rumah keluarga. Rex mengangkut arang dan kayu yang terakhir ke dalam rumah supaya tungku keluarga tetap menyala sepanjang malam. Tungku kami terbuat dari besi tuang.
Musim salju 1927 adalah musim salju yang paling dingin yang pernah terjadi di kota kecil ini. Depresi membuat keluarga-keluarga berjuang untuk menghemat dan pandai menggunakan akal. Keluarga Schow memiliki beberapa ekor sapi dan ayam. Ini bisa membantu keluarga Schow untuk menyediakan susu, telur, krim, dan mentega. Persediaan makanan pun bisa tersedia bagi mereka. George Schow adalah orang yang mempunyai bakat sebagai tukang kayu. Bahkan, ia bisa membuat perasan keju dari bahan kayu sehingga keluarganya dapat membuat keju untuk keperluan sendiri.
Pada senja hari, anak-anak berkumpul di sekeliling piano untuk menyanyikan lagu-lagu Natal. Mereka menantikan kedatangan ayah mereka, George, dari tempat kerjanya sambil memperhatikan jalannya waktu. Ayah mereka adalah seorang tukang pos yang bertugas mengantar surat-surat ke banyak kelompok kecil masyarakat di sekitar Cardston, misalnya Leavitt, Mountain View, Glenwood, dan Hillspring. Tetapi, George akan pulang cepat karena ini adalah malam Natal. Ia selalu memasang pohon Natal bila ia sampai di rumah. Untuk mempersiapkan Natal, anak-anak telah merangkai pop-corn dalam jumlah banyak dan menggunting bintang-bintang kecil yang indah terbuat dari kertas untuk digantung di pohon. Mereka membantu ibu mereka untuk memasang lilin-lilin berwarna yang indah di jepitan pohon. Lilin-lilin itu siap untuk dipasang di dahan-dahan yang kuat.
Sesuai harapan, George pulang lebih awal dari pekerjaannya. Ia merasa senang telah selesai mengantarkan surat-surat pada hari itu. Ia lelah dan begitu kedinginan sehingga seluruh badannya terasa sakit. Tetapi, cinta yang meluap-luap dari keluarganya segera menghangatkan tubuh dan jiwanya. Betapa ia mencintai Natal! Dengan bantuan Sidney dan Rex, ia segera memaku papan-papan silang ke dasar pohon secara hati-hati. Kemudian, mereka mendirikannya di ruang keluarga. Tanpa hiasan pun, pohon itu kelihatan bagus sekali!
Ketika anak-anak menghias pohon, George diam-diam menggiring istrinya ke dapur untuk menjauhi hiruk-pikuk kegembiraan. Kelihatannya, George dalam kesukaran. Ia berbagi cerita dengan Ingeborg tentang peristiwa-peristiwa terakhir yang terjadi ketika ia bekerja pada hari itu. Ketika sedang menuju ke rumah, ia diberitahu tentang kereta api malam yang mengantar sepuluh peti barang antaran ke stasiun. Semua peti itu ditujukan untuk satu keluarga yang tinggal di Hillspring. Namun, karena hari sudah malam dan hampir gelap, pengantaran peti itu harus ditunda sampai sehari sesudah Natal. Jarak tempuh ke Hillspring memang sangat jauh, terutama pada saat badai salju sedang berlangsung.
Kepala rumah tangga keluarga yang sedang menunggu kiriman itu adalah Mr. Jeppson. Selama satu minggu, setiap hari Mr. Jeppson pergi ke stasiun untuk mencari tahu apakah ada paket yang tiba dari keluarga mereka di Amerikat Serikat. George tahu bahwa keluarga ini mempunyai beberapa anak dan sedang mengalami masa yang sulit. Untuk yang terakhir kali, Mr. Jeppson datang kembali ke stasiun pada Malam Natal. Ia putus asa dan terus mencari tahu tentang peti-peti itu. Ia pulang dengan tangan hampa dan sangat sedih. Rupanya, keluarga Jeppson menulis ke sanak-saudara mereka agar mereka mengirim apa pun untuk Natal. Barangkali, kirimannya bisa berupa selimut kain tua yang sudah usang untuk menghangatkan mereka atau sedikit uang untuk membeli arang.
George dan Ingeborg adalah orang yang taat pada agama dan mereka mempunyai iman yang besar. Mereka berlutut dan berdoa dengan tenang untuk hal itu. Sesudah berdoa, mereka saling memandang dan mereka tahu apa yang harus dilakukan. Peti-peti itu harus diantarkan malam itu juga! Tetapi, Ingeborg mempunyai sebuah permintaan. George harus membawa Sidney, putra mereka yang tertua. George hanya dapat melihat dengan satu mata karena suatu peristiwa yang diderita pada awal hidup perkawinan mereka. Dengan penglihatannya yang terbatas, pengantaran di siang hari tidak menjadi masalah. Tetapi, daya tangkap di malam hari merupakan suatu tantangan yang sangat berat baginya, terutama dalam keadaan badai salju.
George memanggil Sidney dan ia menerangkan situasi yang terjadi. Sidney tidak ragu-ragu sedikit pun. Ketika mereka bersiap-siap untuk pergi, anak-anak yang lain diberi tahu tentang perjalanan itu. Mereka membantu menyiapkan beberapa hal, misalnya membuat sandwich dan mengisi termos-termos. Anak-anak yang kecil mengisi kantong ayah mereka dengan kacang dan permen yang bisa mereka makan selama perjalanan. Secara diam-diam, semua anggota keluarga khawatir karena mereka akan terpisah pada waktu Natal.
Setelah kereta salju dipasang, keluarga itu berkumpul untuk berdoa. Dengan iman yang besar, mereka melihat kereta salju itu menghilang secara cepat di malam yang bersalju. Dalam sekejap mata, George dan Sidney tiba di stasiun. Mereka mengangkut peti itu dan berangkat ke Hillspring. Mereka meletakkan tungku panas di bawah kaki agar badan mereka hangat. Selain itu, mereka memakai selendang untuk membungkus sekeliling wajah mereka. Mereka pun menghadapi badai salju di Malam Natal itu. Ketika badai salju mengamuk, anak-anak di rumah menggantung kaos kaki mereka. Kemudian, mereka menyampaikan doa-doa mereka dan bergegas ke tempat tidur. Mereka berharap bisa bertemu ayah dan kakak mereka pada pagi dini hari di hari Natal. Sementara itu, perjalanan kereta salju terus berlanjut dan menembus malam. Mereka membutuhkan waktu 8 jam perjalanan untuk mencapai rumah keluarga Jeppson. Selama perjalanan, mereka sering merasakan pengawalan khusus dan perasaan damai menyelimuti perjalanan itu. Mereka percaya bisa mencapai tujuan dengan selamat.
Akhirnya, mereka lega karena bisa melihat cahaya di rumah keluarga Jeppson. George mengetuk pintu pelan-pelan pada dini hari di pagi Natal. Ia tidak kelihatan baik karena salju telah mengubah napasnya seperti es. Ini membuat bunga-bunga es beku menggantung pada selendang di sekeliling wajahnya. Ketika istri Mr. Jeppson membuka pintu, ia menjerit karena melihat penampilan George yang mengejutkannya. George menerangkan tujuan kedatangannya dan peti- peti itu dibawa masuk ke rumah. Melihat situasi rumah yang kosong, pasti keluarga Jeppson tidak akan merayakan Natal tanpa kedatangan peti-peti itu. Mata Bu Jeppson bercahaya ketika mereka mengeluarkan selimut-selimut baru, sarung tangan, sepatu, mantel, dan pakaian- pakaian lain untuk anak-anak. Selain itu, mereka juga mendapat ham dan bacon, buah-buahan, selai, dan segala macam permen. Mereka mengeluarkan terigu dan gula, kacang, dan bumbu-bumbu, bahkan boneka-boneka kecil untuk anak-anak. Di dalam paket kiriman juga disertakan surat kecil. Surat itu berisi informasi kepada keluarga Jeppson bahwa penduduk di sekeliling lembah telah mengadakan bazar untuk menyumbangkan semua barang kepada keluarga itu. Mereka mengajukan permintaan sederhana yakni selimut-selimut tua itu bisa berubah menjadi bantuan dan cinta yang melimpah dari ratusan orang yang peduli. George dan Sidney meninggalkan keluarga Jeppson yang sangat berbahagia. Mereka berterima kasih sedalam-dalamnya dan memulai perjalanan panjang untuk pulang ke rumah.
Mereka berangkat dengan tungku yang hangat di kaki mereka dan beban yang ringan di kereta salju mereka. Ketika matahari terbit di atas rumah keluarga Schow, anak-anak bergegas memeriksa kaos kaki mereka. Mereka juga ingin melihat apakah ayah dan kakak mereka sudah pulang. Anak-anak terus mengawasi jendela sambil menunggu kembalinya ayah dan kakak mereka. Akhirnya, tepat sesudah makan siang, Paul melihat kereta salju yang tidak asing lagi dan semua lari menyongsong kedatangan George dan Sidney. Dalam keadaan lelah tetapi bahagia, George dan Sidney terhuyung-huyung masuk ke dalam rumah dan mereka semua saling berpelukan. Keduanya bercerita tentang keluarga Jeppson dan betapa pentingnya isi peti-peti itu bagi keluarga Jeppson. Mereka membutuhkannya tidak hanya untuk Natal, tetapi juga untuk kelangsungan hidup mereka selama musim dingin. Selain itu, George dan Sydney juga bercerita tentang perlindungan dan pengawalan yang diberikan oleh Tuhan sepanjang perjalanan. Air mata cinta dan terima kasih memenuhi mata George ketika ia memeluk keluarganya erat-erat. Mereka betul-betul diberkati. George mencoba membayangkan kembali kebahagiaan yang dialami oleh keluarga Jeppson pada hari Natal itu. "Pengiriman paket khusus" yang menjadi mujizat Natal ini tak akan pernah dilupakan oleh keluarga Jeppson maupun keluarga Schow.
Sumber:
Judul Buku : The Magic of Christmas Miracles (Koleksi Kisah Nyata Terbaru yang Sangat Memberikan Inspirasi)
Judul Artikel: Tukang Pos yang Menyelamatkan Natal
Penulis : Gayla Woolf Holt
Penerbit : PT Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 2002
Halaman : 77 - 83

Berkat atau Kutuk

Pernah ada seorang tua yang hidup di desa kecil. Meskipun ia miskin, semua orang cemburu kepadanya karena ia memiliki kuda putih cantik. Bahkan raja menginginkan hartanya itu. Kuda seperti itu belum pernah dilihat begitu kemegahannya, keagungannya dan kekuatannya.

Orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda jantan itu, tetapi orang tua itu selalu menolak, "Kuda ini bukan kuda bagi saya," ia akan mengatakan. "Ia adalah seperti seseorang. Bagaimana kita dapat menjual seseorang. Ia adalah sahabat bukan milik. Bagaimana kita dapat menjual seorang sahabat."

Orang itu miskin dan godaan besar. Tetapi ia tetap tidak menjual kuda itu.

Suatu pagi ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di kandangnya. Seluruh desa datang menemuinya.

"Orang tua bodoh," mereka mengejek dia, "sudah kami katakan bahwa seseorang akan mencuri kudamu. Kami sudah peringatkan bahwa kamu akan dirampok. Anda begitu miskin. Mana mungkin anda dapat melindungi binatang yang begitu berharga? Sebaiknya anda sudah menjualnya. Anda boleh minta harga apa saja. Harga setinggi apapun akan di bayar juga. Sekarang kuda itu hilang dan anda dikutuk oleh kemalangan."

Orang tua itu menjawab, "Jangan bicara terlalu cepat. Katakan saja bahwa kuda itu tidak berada di kandangnya. Itu saja yang kita tahu; selebihnya adalah penilaian. Apakah saya di kutuk atau tidak, bagaimana Anda dapat ketahui itu? Bagaimana Anda dapat menghakimi?"

Orang protes, "Jangan menggambarkan kita sebagai orang bodoh! Mungkin kita bukan ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak diperlukan. Fakta sederhana bahwa kudamu hilang adalah kutukan."

Orang tua itu berbicara lagi, "Yang saya tahu hanyalah bahwa kandang itu kosong dan kuda itu pergi. Selebihnya saya tidak tahu. Apakah itu kutukan atau berkat, saya tidak dapat katakan. Yang dapat kita lihat hanyalah sepotong saja. Siapa tahu apa yang akan terjadi nanti?"

Orang-orang desa tertawa. Menurut mereka orang itu gila. Mereka memang selalu menganggap dia orang tolol; kalau tidak, ia akan menjual kuda itu dan hidup dari uang yang diterimanya. Sebaliknya, ia seorang tukang potong kayu miskin, orang tua yang memotong kayu bakar dan menariknya keluar hutan lalu menjualnya. Uang yang ia terima hanya cukup untuk membeli makanan, tidak lebih. Hidupnya sengsara sekali. Sekarang ia sudah membuktikan bahwa ia betul-betul tolol.

Sesudah lima belas hari, kuda itu kembali. Ia tidak di curi, ia lari ke dalam hutan. Ia tidak hanya kembali, ia juga membawa sekitar selusin kuda liar bersamanya. Sekali lagi penduduk desa berkumpul di sekeliling tukang potong kayu itu dan mengatakan, "Orang tua, kamu benar dan kami salah. Yang kami anggap kutukan sebenarnya berkat. Maafkan kami."

Jawab orang itu, "Sekali lagi kalian bertindak gegabah. Katakan saja bahwa kuda itu sudah balik. Katakan saja bahwa selusin kuda balik bersama dia, tetapi jangan menilai. Bagaimana kalian tahu bahwa ini adalah berkat? Anda hanya melihat sepotong saja. Kecuali kalau kalian sudah mengetahui seluruh cerita, bagaimana anda dapat menilai? Kalian hanya membaca satu halaman dari sebuah buku. Dapatkah kalian menilai seluruh buku? Kalian hanya membaca satu kata dari sebuah ungkapan. Apakah kalian dapat mengerti seluruh ungkapan? Hidup ini begitu luas, namun Anda menilai seluruh hidup berdasarkan satu halaman atau satu kata. Yang anda tahu hanyalah sepotong! Jangan katakan itu adalah berkat. Tidak ada yang tahu. Saya sudah puas dengan apa yang saya tahu. Saya tidak terganggu karena apa yang saya tidak tahu."

"Barangkali orang tua itu benar," mereka berkata satu kepada yang lain. Jadi mereka tidak banyak berkata-kata. Tetapi di dalam hati mereka tahu ia salah. Mereka tahu itu adalah berkat. Dua belas kuda liar pulang bersama satu kuda. Dengan kerja sedikit, binatang itu dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian dijual untuk banyak uang.

Orang tua itu mempunyai seorang anak laki-laki. Anak muda itu mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu. Setelah beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda dan kedua kakinya patah. Sekali lagi orang desa berkumpul sekitar orang tua itu dan menilai.

"Kamu benar," kata mereka, "Kamu sudah buktikan bahwa kamu benar. Selusin kuda itu bukan berkat. Mereka adalah kutukan. Satu-satunya puteramu patah kedua kakinya dan sekarang dalam usia tuamu kamu tidak ada siapa-siapa untuk membantumu. Sekarang kamu lebih miskin lagi."

Orang tua itu berbicara lagi, "Ya, kalian kesetanan dengan pikiran untuk menilai, menghakimi. Jangan keterlaluan. Katakan saja bahwa anak saya patah kaki. Siapa tahu itu berkat atau kutukan? Tidak ada yang tahu. Kita hanya mempunyai sepotong cerita. Hidup ini datang sepotong-sepotong."

Maka terjadilah 2 minggu kemudian negeri itu berperang dengan negeri tetangga. Semua anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara. Hanya anak si orang tua tidak diminta karena ia sedang terluka. Sekali lagi orang berkumpul sekitar orang tua itu sambil menangis dan berteriak karena anak-anak mereka sudah dipanggil untuk bertempur. Sedikit sekali kemungkinan mereka akan kembali. Musuh sangat kuat dan perang itu akan dimenangkan musuh. Mereka mungkin tidak akan melihat anak-anak mereka kembali.

"Kamu benar, orang tua," mereka menangis, "Tuhan tahu kamu benar. Ini membuktikannya. Kecelakaan anakmu merupakan berkat. Kakinya patah, tetapi paling tidak ia ada bersamamu. Anak-anak kami pergi untuk selama-lamanya."

Orang tua itu berbicara lagi, "Tidak mungkin untuk berbicara dengan kalian. Kalian selalu menarik kesimpulan. Tidak ada yang tahu. Katakan hanya ini: anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anak saya tidak. Tidak ada yang tahu apakah itu berkat atau kutukan. Tidak ada yang cukup bijaksana untuk mengetahui. Hanya Allah yang tahu."

* * * *
Orang tua itu benar. Kita hanya tahu sepotong dari seluruh kejadian. Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian hidup ini hanya merupakan satu halaman dari buku besar. Kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan. Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita.

Saya tidak tahu dari mana si tukang kayu belajar menjaga kesabarannya. Mungkin dari tukang kayu lain di Galelia. Sebab tukang kayu itulah yang paling baik mengungkapkannya:

"Janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri."

Ia adalah yang paling tahu. Ia menulis cerita kita. Dan Ia sudah menulis bab yang terakhir. (In The Eye of The Storm - Max Lucado)

source: http://www.sumberkristen.com
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Serly 22 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger