Serly 22
Headlines News :

Latest Post

Rindu Melahirkan

Semua uraian diambil dari Kejadian 30:1-24. Ketika berjalan-jalan, Ruben mendapatkan buah dudaim. Buah itu diberikan kepada Lea. Beberapa buah itu diminta Rahel tetapi ditolaknya. Mengapa? Selain sudah tinggal bersama Yakub, Rahel ingin dudaim pula. Karena Lea menolak, Rahel pun menawarnya. Mereka pun sepakat. Lea tinggal dan tidur dengan Yakub, sementara Rahel mendapat buah dudaim.
Sebenarnya, makan buah dudaim merupakan salah satu cara agar mempunyai anak. Dalam kasus ini, kata “mempunyai” harus diperjelas. Mempunyai karena memerintah budak perempuan atau melahirkan anak kandung.
Setelah empat anak Lea lahirkan dan karena Rahel mandul, tak seorang anak pun mereka lahirkan. Karena itu, Bilha dan Zilpa diberikan supaya diperistri Yakub. Namun meski Dan, Naftali, Gad, Asyer anak budak, Bilha dan Zilpa tidak boleh mengklaim anak kandung mereka sebagai anak sendiri. Mengapa? Karena semata-mata melaksanakan perintah dan nama yang tidak diberikan ibu kandung, anak kandung mereka menjadi milik Lea dan Rahel.
Usaha agar melahirkan anak adalah doa dan makan buah dudaim. Doa Rahel adalah doa permohonan karena kemandulannya. Doa Lea adalah ucapan syukur karena Yakub lebih cinta kepada Rahel tetapi Allah bela sehingga Lea beranak empat.
Karena kondisi yang tidak memungkinkan, Lea mempertahankan atau Rahel meminta buah dudaim. Mengapa? Di Timur Dekat buah dudaim dipahami sebagai simbol birahi karena akar kata yang membentuknya, yaitu dod (love) dan duda’im (apple-love). Buah ini merangsang nafsu birahi dan mengobati kemandulan. Karena khasiatnya, mereka hendak makan buah itu. Namun karena kesepakatan, buah itu dimakan Rahel.
Lea-Rahel sangat berhasrat mempunyai anak. Hasrat ini menjadi semacam “persaingan”. Andaikan dianggap “persaingan”, Lea berhasil “memenangkan” karena tujuh anak telah dilahirkan dan dibela Tuhan karena sikap diskriminatif Yakub yang lebih mencintai Rahel. Namun, di atas semua itu, hasrat mereka adalah mendapatkan cinta karena cinta membuat orang lain  menerimanya. Dalam kasus ini hasrat cinta terpenuhi bukan hanya ketika bersuami, melainkan juga mampu melahirkan anak.

Sumber: Renungan Malam, Maret 2010

Atribut Allah

Hari ini saya ingin bicara tentang Tuhan. Siapakah Tuhan? Mungkin yang paling mendalam dan istilah yang paling disalahpahami di dunia adalah istilah untuk Tuhan. Saya yakin bahwa di jantung masalah spiritual yang paling adalah kesalahpahaman dari Allah. Banyak ajaran sesat agama adalah hasil dari kesalahpahaman Allah. Daniel 11:32 berkata, "Dan orang-orang yang mengenal Allah mereka harus melakukan eksploitasi besar." Ketika kami datang untuk benar memahami Tuhan, maka kita bisa mempercayai-Nya dan melihat hal-hal besar terjadi.
Namun di sini adalah masalah yang membuat banyak dari kita dari hubungan yang benar dengan Bapa surgawi kita. Mazmur 50:21 mengatakan, "Kau pikir aku seperti kamu." Kami proyek pada Bapa Surgawi kita citra ayah duniawi kita. Jika ayah kita di dunia tidak menghabiskan waktu bersama kita, sulit untuk tumbuh dewasa dan berpikir "Ya Bapa Surgawi ingin menghabiskan waktu dengan saya." Jika ayah duniawi kami tidak akan mendengarkan kita, sulit untuk berpikir "Ya Bapa Surgawi ingin mendengarkan saya. "
Saya telah belajar satu hal selama ini, Bapa Surgawi saya jauh berbeda dari ayah duniawi saya. Saya berterima kasih kepada Tuhan untuk itu karena ayah duniawi saya seorang pecandu alkohol dan sangat kasar secara verbal dan emosional. Akibatnya saya diproyeksikan bahwa pada saat saya Surga Bapa, dan bahwa adalah salah satu hambatan bagi saya benar-benar datang kepada Kristus.
Sekarang pertanyaannya adalah: Siapa Allah? Allah telah menyatakan diriNya dalam tulisan suci. Dia telah menyatakan dirinya melalui kita menunjukkan atribut-Nya. Atribut adalah sesuatu yang benar dari Allah dalam sifat dasar-Nya. Jadi ketika kita mengatakan Allah adalah kasih, Dia hanya sedang sendiri. Mari kita lihat beberapa atribut-Nya.
Yang pertama adalah ini - Allah telah menyatakan diriNya sebagai Mahakuasa, semua kuat. Setiap kali saya melihat kata mahakuasa saya berpikir, "Dia bisa melakukannya." Dan tulisan suci menunjukkan bahwa Ia berbicara kepada apa-apa dan sesuatu "Dia ruleth atas semua kerajaan orang kafir dan tidak ada yang terlalu besar bagi Allah." datang ke keberadaan. Sekarang bagaimana hal ini mempengaruhi kita dalam kehidupan pribadi kita dan berjalan dengan Kristus? Hal ini memungkinkan saya untuk berdoa untuk hal-hal yang saya tidak akan pernah bermimpi berdoa karena jika aku tidak tahu Dia bisa melakukannya. Kedua, ketika Anda benar-benar lelah, Dia memberi kekuatan kepada yang lelah.
Beberapa tahun yang lalu saya berbicara di konferensi dan aku punya dua minggu pertemuan berat. Seminggu sebelum kebangkitan yang sesungguhnya terjadi dan aku lelah. Dan aku duduk di sana bahwa Sabtu pagi dan aku mulai menangis. Saya hanya berkata, "Tuhan, aku tidak bisa melakukannya. Saya sangat lelah. Aku bahkan tidak punya energi untuk bangkit dari kursi ini dan berjalan ke podium yang apalagi memberikan bicara jam "Dan aku hanya berkata,". Tuhan, tolonglah aku. "
Sesuatu terjadi ketika mereka mulai bertepuk tangan dan berkata, "Ini Josh McDowell." Kekuatan datang ke dalam diriku, aku berdiri dan aku berjalan ke podium itu dan mungkin diberikan energi hampir lebih selama satu jam daripada yang saya alami dalam bicara. Kemudian, aku berkata, "Tuhan, aku tidak bisa percaya. Tapi Anda bisa "Saya tidak bisa mengatakan berapa kali dalam hidup saya, saya harus meminta kekuatan itu..
Alkitab mengatakan bahwa Allah tidak hanya mahakuasa, Dia adalah mana-mana, semua yang hadir. Ini adalah ungkapan yang saya gunakan, Itu berarti tidak ada gunanya lebih dekat kepada Tuhan daripada titik lain "Dia di sini.". Psalms139 berkata, "Dimana saya bisa pergi dari roh Mu, atau di mana saya dapat bersembunyi dari hadapan-Mu? Jika saya naik ke surga, Engkau ada. Jika saya naik ke Sheol engkau di sana. Jika saya mengambil sayap burung merpati dan jika saya diam di bagian terpencil laut, bahkan ada tangan-Mu akan pegangan saya dan tangan kanan-Mu akan meletakkan memegang aku "adalah. Allah segera dapat diakses di manapun Anda berada.

 
Sekarang Alkitab mengatakan untuk mendekatkan kepada Allah. Bagaimana Anda menggambar dekat kepada Allah jika tidak ada gunanya lebih dekat dengan Tuhan daripada titik lain? Ketika berbicara tentang gambar dekat kepada Allah, adalah berbicara tentang pengalaman Anda, bukan posisi Anda. Saya memiliki hak istimewa yang menikah dengan Dottie selama dua puluh sembilan tahun, dan saya masih belajar tentang hal-hal Dottie. Kami sedang ditarik lebih dekat bersama, tidak secara fisik dalam posisi, namun dalam pengalaman emosional. Ketika Tuhan berkata untuk mendekat pada Allah, Dia tidak mengatakan lebih dekat fisik dalam posisi tetapi lebih emosional dalam pengalaman Anda.
Kemudian Alkitab mengatakan bahwa Allah adalah Maha Tahu, yang berarti "Dia tahu itu." Kata Mazmur 139, "Oh Tuhan, Engkau telah mencari saya dan kenal saya. Sesungguhnya Engkau tahu kapan aku duduk dan ketika aku bangkit. Sesungguhnya Engkau mengerti pikiranku dari jauh dan engkau doesth meneliti jalan saya dan berbaring ke bawah dan sangat erat berkenalan dengan segala cara saya. Engkau telah menyertakan aku di belakang dan sebelum dan meletakkan tangan-Mu kepadaku, pengetahuan tersebut terlalu bagus untuk saya "tahu. Dia setiap pikiran. Allah hanya bukan Allah realitas, Dia adalah Tuhan dari semua kemungkinan.
Seluruh hidupku berpusat di sekitar sekolah hukum. Saya mendapat beasiswa penuh, tapi aku tidak yakin bahwa itu keinginan utama Tuhan untuk saya. Karena mengetahui bahwa Dia mahatahu itu membantu saya untuk membuat keputusan itu. Saya berkata, "Tuhan di sini adalah hidup saya, pasangan masa depan saya, profesi masa depan saya. Berikut segalanya untuk masa depan saya "Apa yang membantu membuat keputusan itu. jadi lebih mudah adalah bahwa saya tahu Tuhan tahu semua kemungkinan hidup saya dan karena Dia mengasihi saya, Dia memilih yang terbaik.
Saya tidak memiliki rasa takut kerangka apapun datang menerjang keluar dari lemari dalam hubungan saya dengan Tuhan. Jika ada kerangka setiap ada istri saya tidak akan tahu, Tuhan tahu itu. Dia berkenalan dengan semua keintiman dalam hidup saya. Karena "Dia tahu itu", aku tidak takut bahwa ada beberapa kelemahan yang tidak diketahui dalam hidup saya yang akan menghancurkan hubungan saya dengan Tuhan atau Dia pernah menggunakan saya. Dia tahu semua kelemahan dan Dia masih mencintaiku dan menggunakan saya.
Kemudian Allah adalah kekal. Dia tidak pernah berubah. Maleakhi 3:06 mengatakan, "Akulah TUHAN. Saya mengganti tidak. "Kuasa-Nya tidak pernah bisa mengurangi ataupun kemuliaan-Nya pernah pudar. Dia selalu akan sama. Hal ini mendorong saya untuk berdoa, tidak berpikir, "Hari ini Dia mungkin mendengar doa saya, besok Dia tidak akan." Dia adalah kemarin, hari ini, sama dan besok. Saya tahu setiap hari Dia akan mendengar doa-doa saya jika saya datang di kemurnian dan iman di hadapan-Nya. Saya tidak perlu khawatir jika saya akan menemukan Tuhan dalam suasana hati yang reseptif maupun tidak. Dia tidak pernah berubah.
Sebagai manusia, kita proyek hubungan duniawi kita kepada Bapa Surgawi kita atas kebenaran alkitabiah. hubungan saya dengan ayah saya, kota beralkohol, penyalahgunaan fisik ibu saya, pelecehan verbal tentang saya dan anak-anak lain, sehingga ditanamkan citra negatif dari seorang ayah bahwa ketika orang akan berbicara kepada saya tentang Bapa Surgawi mereka, saya tidak bisa ' t pegang itu. Dengan hari ini banyak orang, orang nomor satu penghalang untuk datang kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan adalah gambar ayah duniawi mereka. Karena Seperti Tuhan berkata, kamu melihat saya sama sekali seperti yang Anda lihat sendiri. Dan salah satu doa saya adalah bahwa ketika kita melalui siapa Tuhan, Dia mungkin menjadi ayah Anda, tetapi Dia bukan orang tua Anda. Dia benar-benar berbeda dari ayah duniawi kita.

oleh Josh McDowell Album: Perjalanan Menuju Allah 

PENEGAK HUKUM BERHATI NURANI

Berbagai praktik peradilan di negeri ini telah menciderai rasa keadilan masyarakat. Apa yang secara formal-legal tampak sesuai ketentuan UU dan hukum positif belum tentu mengekspresikan perasaan keadilan warga negara. Kasus-kasus korupsi yang dihukum sangat ringan menjadi contoh bagaimana para penegak hukum lebih mementingkan formalisme hukum daripada tuntutan keadilan.
Kenyataan seperti inilah yang melatarbelakangi tulisan Amir Mudzakkir berjudul Ketika Hukum Menciderai Keadilan di harian ini (Kompas, 28/12/2010). Cara pembahasannya tampak rumit karena menyitir sebagian besar filsuf politik dengan konteks pemikiran yang berbeda, tetapi bangun argumentasinya sangat sederhana. “Mengapa keadilan sebagai salah satu keutamaan moral tampak menjauh dari praktik penegakan hukum di negeri ini?” Menjawab pertanyaan ini, Amir Mudzakkir mendeteksi dua kemungkinan mengapa praktik hukum di negeri ini tampak lebih formal-legal daripada adil.
Kelemahan Kontrak Sosial
Kontrak sosial sebagai proses politis melegalisasi keadilan disinyalir sebagai salah satu penyebab terciptanya jurang antara formalisme dan keadilan hukum persis ketika veil of ignorance (tirai tanpa pengetahuan) sebagaimana diprasyaratkan John Rawls dalam proses legislasi (baca: kontrak sosial) disusupi kepentingan sektarian para peserta kontrak sosial.
Hanya saja tidak begitu jelas apa yang ingin dikatakan Amir Mudzakkir ketika menyitir Kant dan Pascal. Betul apa kata Pascal, juga Hobbes atau bahkan Emmanuel Levinas dan Paul Ricoeur, bahwa pada dasarnya setiap individu bersifat selfish, mengutamakan kepentingan diri dan kelompok. Kalau memang kontrak sosial prosedural Rawlsian mau dirujuk sebagai medium ideal menjembatani diskrepansi hukum dan keadilan, maka antropologi para filsuf ini sebenarnya adalah pengingat dan penegas pentingnya veil of ignorance. Kalaupun veil of ignorance terpenuhi, Amir Mudzakkir tidak bisa menyimpulkan bahwa “…keadilan dalam hukum adalah sebuah permintaan sosial, diputuskan oleh suara terbanyak, bukan lagi sebuah kebajikan” (alinea 10). Keputusan yang dihasilkan dalam kontrak sosial semacam ini tidak berdasarkan suara terbanyak, tetapi sebuah konsensus rasional dan imparsial berbagai pihak yang ikut di dalamnya.
Tidak sepenuhnya benar bahwa John Rawls membangun teori kontrak sosial berbasis pada pemikiran Immanuel Kant. Bagi Rawls, pandangan Kant mengenai individu yang otonom, bebas, dan rasional, yang tidak tunduk pada otoritas eksternal apapun, termasuk pandangan politik, nilai atau ideologi tertentu, sangat bermanfaat sebagai syarat formal terjadinya kontrak sosial. Meskipun demikian, gagasan kontrak sosial keduanya sangat berbeda. Pandangan Kant bahw “united will” dari para pengambil keputusan sebagai yang mencerminkan kehendak siapa pun juga individu rasional, otonom, dan bebas yang tidak ambil bagian dalam kontrak sosial justru dapat berbahaya persis ketika prasyarat veil of ignorance sendiri tidak kebal terhadap upaya penyusupan berbagai kepentingan.
Deteksi kedua atas diskrepansi hukum dan keadilan ada pada level praktik pengadilan itu sendiri. Logis saja menyimpulkan bahwa legislasi UU dan hukum yang ditunggangi berbagai kepentingan akan semakin menjauhkan keadilan dari hukum positif. Bahkan kalaupun kontrak sosial Kantian yang dipakai, “united will” peserta diskursus yang mencerminkan prinsip keadilan universal tetap sulit dicapai ketika kadar rasionalitas, tingkat otonomi, atau kalkulasi kepentingan utilitaristik bersifat konstitutif dalam diri setiap individu.
Mari kita berasumsi bahwa proses legislasi UU atau hukum memang tidak bisa bebas seratus persen dari kepentingan nilai, politis, atau ideologis. Akibatnya jelas, UU atau hukum formal yang dihasilkan dalam praktiknya lebih pro pada kepentingan tertentu yang tampaknya memang formal-legal, tetapi tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat. Pertanyaannya, dalam keadaan demikian, apakah penegak hukum masih bisa bertindak adil?
Mungkin saja Kant bisa menjawab pertanyaan ini, terutama menggunakan imperatif kategoris kedua yang melarang seseorang memperlakukan orang lain semata-mata sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu. Filsuf-filsuf politik lain yang dirujuk Amir Mudzakkar dalam tulisannya—Spinoza, Hobbes, Locke, Rawls, termasuk Andre Comte-Sponville yang sebenarnya bukan filsuf politik—tidak menyajikan jawaban memadai.
Pentingnya Suara Hati
Menurut saya, Paul Ricoeur termasuk satu dari sedikit filsuf politik yang menjawab pertanyaan ini secara meyakinkan sekaligus mensintesakan berbagai tradisi pemikiran mengenai kontrak sosial (Lihat Paul Ricoeur, The Just, The University of Chicago Press, 2000, hlm. 146-155). Bagi Ricoeur, meskipun tidak adil, hukum positif tetap harus ditaati karena perannya sebagai interdiction dalam arti sebagai otoritas eksternal yang menuntut ketaatan demi mencegah terjadinya kekacauan sosial. Dalam arti itu, setiap produk hukum, meskipun tidak bebas sama sekali dari berbagai kepentingan, tetap harus bersifat formal dan universal. Sifat formal dan universal adalah dimensi objektif hukum yang melampaui berbagai interes individu atau kelompok.
Paul Ricoeur kemudian menambahkan unsur suara hati (conscience)—setelah interdiction dan prinsip hukum yang formal-universal—sebagai yang sanggup mewujudkan hukum yang formal dan positivistik sekaligus adil (Paul Ricoeur, 2000: 151-152). Dalam pemahaman Ricoeur, jika penegak hukum hanya mementingkan aspek interdiksi dan prinsip universalitas hukum, maka dia bertindak legal, tetapi belum tentu adil. Sementara itu, memutuskan perkara dengan suara hati justru pertama-tama memperhatikan aspek interdiksi dan universalitas norma hukum, tetapi kemudian menaruh hormat (respect) pada pihak-pihak yang berkepentingan sebegitu rupa sehingga sanksi yang diberikan tidak sekadar legal-formal, tetapi sekaligus mencerminkan rasa hormat (respect) itu. Rasa hormat (respect) bergema dari dalam suara hati yang ketaatan padanya dapat saja diabaikan, tetapi sama sekali tidak bisa didiamkan. Suara hatilah yang mendesakkan phronesis (kebijaksanaan praktis) dalam setiap keputusan hukum, sehingga penegak hukum dapat menjatuhkan putusan secara adil, meskipun bisa saja berbeda dengan ketentuan hukum formal-legal yang ada.
Dalam arti ini saya setuju sepenuhnya pada kesimpulan akhir Amir Mudzakkir, bahwa kepastian hukum harus tetap dijunjung tinggi. Tetapi diskrepansi hukum yang formal-legal dengan hukum yang adil dapat dijembatani bukan sekadar “menekan institusi politik agar bekerja serius menuntaskan kasus-kasus hukum” di negeri ini. Institusi politik dan para politisi tidak bisa membebaskan dirinya dari berbagai kepentingan, karena itu mustahil mengharapkan mereka menjadi agen perubahan. Harapan besar justru harus diberikan pada para penegak hukum, yang karena kemandiriannya dalam kekuasaan Trias Politica, agar selalu melibatkan suata hati sebagai otoritas moral yang penting dalam setiap pengambilan keputusan hukum. Kita mengingatkan para penegak hukum, bahwa melalui desakan suara hati itulah bergema pula suara untuk menegakkan keadilan di atas rumusan hukum legal-formal.
Persis di titik inilah kita berdiri terpaku dan heran: “Akankah datang para penegak hukum berhati nurani?”
(Penulis dosen Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta. Dapat dihubungi di email: yeremias.jena@gmail.com)

TUKANG POS YANG MENYELAMATKAN NATAL

Malam Natal adalah peristiwa meriah di rumah Schow di Cardston, Alberta, Kanada. Tradisi sungguh-sungguh terasa ketika kedelapan anaknya yang berusia 3 sampi 16 tahun mondar-mandir untuk membantu ibu mereka, Ingeborg, dalam persiapan masa Natal. Ibuku, Ruth baru berumur 8 tahun pada saat itu. Tetapi, ia masih ingat kejadian itu sampai saat ini. Biasanya, Natal selalu dilengkapi dengan Schow Danish fudge dan toffee. Schow Danish fudge adalah sejenis permen coklat yang lunak dari Denmark dan dibuat oleh keluarga Schow, sedangkan toffee adalah sejenis permen yang dibuat dari gula dan mentega. Toffe terbuat dari permen yang lentur dan bisa ditarik.
Di tengah-tengah kegembiraan, tiba-tiba pintu belakang terbuka dengan suara keras. Angin yang sangat dingin berhembus masuk dan salju pun menyerbu ke dalam dapur yang nyaman. Sidney, 15 tahun, baru saja kembali dari tugasnya yakni mengantar koran. Ia sangat kedinginan dan akhirnya ia merasa senang karena berada di kehangatan rumah keluarga. Rex mengangkut arang dan kayu yang terakhir ke dalam rumah supaya tungku keluarga tetap menyala sepanjang malam. Tungku kami terbuat dari besi tuang.
Musim salju 1927 adalah musim salju yang paling dingin yang pernah terjadi di kota kecil ini. Depresi membuat keluarga-keluarga berjuang untuk menghemat dan pandai menggunakan akal. Keluarga Schow memiliki beberapa ekor sapi dan ayam. Ini bisa membantu keluarga Schow untuk menyediakan susu, telur, krim, dan mentega. Persediaan makanan pun bisa tersedia bagi mereka. George Schow adalah orang yang mempunyai bakat sebagai tukang kayu. Bahkan, ia bisa membuat perasan keju dari bahan kayu sehingga keluarganya dapat membuat keju untuk keperluan sendiri.
Pada senja hari, anak-anak berkumpul di sekeliling piano untuk menyanyikan lagu-lagu Natal. Mereka menantikan kedatangan ayah mereka, George, dari tempat kerjanya sambil memperhatikan jalannya waktu. Ayah mereka adalah seorang tukang pos yang bertugas mengantar surat-surat ke banyak kelompok kecil masyarakat di sekitar Cardston, misalnya Leavitt, Mountain View, Glenwood, dan Hillspring. Tetapi, George akan pulang cepat karena ini adalah malam Natal. Ia selalu memasang pohon Natal bila ia sampai di rumah. Untuk mempersiapkan Natal, anak-anak telah merangkai pop-corn dalam jumlah banyak dan menggunting bintang-bintang kecil yang indah terbuat dari kertas untuk digantung di pohon. Mereka membantu ibu mereka untuk memasang lilin-lilin berwarna yang indah di jepitan pohon. Lilin-lilin itu siap untuk dipasang di dahan-dahan yang kuat.
Sesuai harapan, George pulang lebih awal dari pekerjaannya. Ia merasa senang telah selesai mengantarkan surat-surat pada hari itu. Ia lelah dan begitu kedinginan sehingga seluruh badannya terasa sakit. Tetapi, cinta yang meluap-luap dari keluarganya segera menghangatkan tubuh dan jiwanya. Betapa ia mencintai Natal! Dengan bantuan Sidney dan Rex, ia segera memaku papan-papan silang ke dasar pohon secara hati-hati. Kemudian, mereka mendirikannya di ruang keluarga. Tanpa hiasan pun, pohon itu kelihatan bagus sekali!
Ketika anak-anak menghias pohon, George diam-diam menggiring istrinya ke dapur untuk menjauhi hiruk-pikuk kegembiraan. Kelihatannya, George dalam kesukaran. Ia berbagi cerita dengan Ingeborg tentang peristiwa-peristiwa terakhir yang terjadi ketika ia bekerja pada hari itu. Ketika sedang menuju ke rumah, ia diberitahu tentang kereta api malam yang mengantar sepuluh peti barang antaran ke stasiun. Semua peti itu ditujukan untuk satu keluarga yang tinggal di Hillspring. Namun, karena hari sudah malam dan hampir gelap, pengantaran peti itu harus ditunda sampai sehari sesudah Natal. Jarak tempuh ke Hillspring memang sangat jauh, terutama pada saat badai salju sedang berlangsung.
Kepala rumah tangga keluarga yang sedang menunggu kiriman itu adalah Mr. Jeppson. Selama satu minggu, setiap hari Mr. Jeppson pergi ke stasiun untuk mencari tahu apakah ada paket yang tiba dari keluarga mereka di Amerikat Serikat. George tahu bahwa keluarga ini mempunyai beberapa anak dan sedang mengalami masa yang sulit. Untuk yang terakhir kali, Mr. Jeppson datang kembali ke stasiun pada Malam Natal. Ia putus asa dan terus mencari tahu tentang peti-peti itu. Ia pulang dengan tangan hampa dan sangat sedih. Rupanya, keluarga Jeppson menulis ke sanak-saudara mereka agar mereka mengirim apa pun untuk Natal. Barangkali, kirimannya bisa berupa selimut kain tua yang sudah usang untuk menghangatkan mereka atau sedikit uang untuk membeli arang.
George dan Ingeborg adalah orang yang taat pada agama dan mereka mempunyai iman yang besar. Mereka berlutut dan berdoa dengan tenang untuk hal itu. Sesudah berdoa, mereka saling memandang dan mereka tahu apa yang harus dilakukan. Peti-peti itu harus diantarkan malam itu juga! Tetapi, Ingeborg mempunyai sebuah permintaan. George harus membawa Sidney, putra mereka yang tertua. George hanya dapat melihat dengan satu mata karena suatu peristiwa yang diderita pada awal hidup perkawinan mereka. Dengan penglihatannya yang terbatas, pengantaran di siang hari tidak menjadi masalah. Tetapi, daya tangkap di malam hari merupakan suatu tantangan yang sangat berat baginya, terutama dalam keadaan badai salju.
George memanggil Sidney dan ia menerangkan situasi yang terjadi. Sidney tidak ragu-ragu sedikit pun. Ketika mereka bersiap-siap untuk pergi, anak-anak yang lain diberi tahu tentang perjalanan itu. Mereka membantu menyiapkan beberapa hal, misalnya membuat sandwich dan mengisi termos-termos. Anak-anak yang kecil mengisi kantong ayah mereka dengan kacang dan permen yang bisa mereka makan selama perjalanan. Secara diam-diam, semua anggota keluarga khawatir karena mereka akan terpisah pada waktu Natal.
Setelah kereta salju dipasang, keluarga itu berkumpul untuk berdoa. Dengan iman yang besar, mereka melihat kereta salju itu menghilang secara cepat di malam yang bersalju. Dalam sekejap mata, George dan Sidney tiba di stasiun. Mereka mengangkut peti itu dan berangkat ke Hillspring. Mereka meletakkan tungku panas di bawah kaki agar badan mereka hangat. Selain itu, mereka memakai selendang untuk membungkus sekeliling wajah mereka. Mereka pun menghadapi badai salju di Malam Natal itu. Ketika badai salju mengamuk, anak-anak di rumah menggantung kaos kaki mereka. Kemudian, mereka menyampaikan doa-doa mereka dan bergegas ke tempat tidur. Mereka berharap bisa bertemu ayah dan kakak mereka pada pagi dini hari di hari Natal. Sementara itu, perjalanan kereta salju terus berlanjut dan menembus malam. Mereka membutuhkan waktu 8 jam perjalanan untuk mencapai rumah keluarga Jeppson. Selama perjalanan, mereka sering merasakan pengawalan khusus dan perasaan damai menyelimuti perjalanan itu. Mereka percaya bisa mencapai tujuan dengan selamat.
Akhirnya, mereka lega karena bisa melihat cahaya di rumah keluarga Jeppson. George mengetuk pintu pelan-pelan pada dini hari di pagi Natal. Ia tidak kelihatan baik karena salju telah mengubah napasnya seperti es. Ini membuat bunga-bunga es beku menggantung pada selendang di sekeliling wajahnya. Ketika istri Mr. Jeppson membuka pintu, ia menjerit karena melihat penampilan George yang mengejutkannya. George menerangkan tujuan kedatangannya dan peti- peti itu dibawa masuk ke rumah. Melihat situasi rumah yang kosong, pasti keluarga Jeppson tidak akan merayakan Natal tanpa kedatangan peti-peti itu. Mata Bu Jeppson bercahaya ketika mereka mengeluarkan selimut-selimut baru, sarung tangan, sepatu, mantel, dan pakaian- pakaian lain untuk anak-anak. Selain itu, mereka juga mendapat ham dan bacon, buah-buahan, selai, dan segala macam permen. Mereka mengeluarkan terigu dan gula, kacang, dan bumbu-bumbu, bahkan boneka-boneka kecil untuk anak-anak. Di dalam paket kiriman juga disertakan surat kecil. Surat itu berisi informasi kepada keluarga Jeppson bahwa penduduk di sekeliling lembah telah mengadakan bazar untuk menyumbangkan semua barang kepada keluarga itu. Mereka mengajukan permintaan sederhana yakni selimut-selimut tua itu bisa berubah menjadi bantuan dan cinta yang melimpah dari ratusan orang yang peduli. George dan Sidney meninggalkan keluarga Jeppson yang sangat berbahagia. Mereka berterima kasih sedalam-dalamnya dan memulai perjalanan panjang untuk pulang ke rumah.
Mereka berangkat dengan tungku yang hangat di kaki mereka dan beban yang ringan di kereta salju mereka. Ketika matahari terbit di atas rumah keluarga Schow, anak-anak bergegas memeriksa kaos kaki mereka. Mereka juga ingin melihat apakah ayah dan kakak mereka sudah pulang. Anak-anak terus mengawasi jendela sambil menunggu kembalinya ayah dan kakak mereka. Akhirnya, tepat sesudah makan siang, Paul melihat kereta salju yang tidak asing lagi dan semua lari menyongsong kedatangan George dan Sidney. Dalam keadaan lelah tetapi bahagia, George dan Sidney terhuyung-huyung masuk ke dalam rumah dan mereka semua saling berpelukan. Keduanya bercerita tentang keluarga Jeppson dan betapa pentingnya isi peti-peti itu bagi keluarga Jeppson. Mereka membutuhkannya tidak hanya untuk Natal, tetapi juga untuk kelangsungan hidup mereka selama musim dingin. Selain itu, George dan Sydney juga bercerita tentang perlindungan dan pengawalan yang diberikan oleh Tuhan sepanjang perjalanan. Air mata cinta dan terima kasih memenuhi mata George ketika ia memeluk keluarganya erat-erat. Mereka betul-betul diberkati. George mencoba membayangkan kembali kebahagiaan yang dialami oleh keluarga Jeppson pada hari Natal itu. "Pengiriman paket khusus" yang menjadi mujizat Natal ini tak akan pernah dilupakan oleh keluarga Jeppson maupun keluarga Schow.
Sumber:
Judul Buku : The Magic of Christmas Miracles (Koleksi Kisah Nyata Terbaru yang Sangat Memberikan Inspirasi)
Judul Artikel: Tukang Pos yang Menyelamatkan Natal
Penulis : Gayla Woolf Holt
Penerbit : PT Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 2002
Halaman : 77 - 83

Berkat atau Kutuk

Pernah ada seorang tua yang hidup di desa kecil. Meskipun ia miskin, semua orang cemburu kepadanya karena ia memiliki kuda putih cantik. Bahkan raja menginginkan hartanya itu. Kuda seperti itu belum pernah dilihat begitu kemegahannya, keagungannya dan kekuatannya.

Orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda jantan itu, tetapi orang tua itu selalu menolak, "Kuda ini bukan kuda bagi saya," ia akan mengatakan. "Ia adalah seperti seseorang. Bagaimana kita dapat menjual seseorang. Ia adalah sahabat bukan milik. Bagaimana kita dapat menjual seorang sahabat."

Orang itu miskin dan godaan besar. Tetapi ia tetap tidak menjual kuda itu.

Suatu pagi ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di kandangnya. Seluruh desa datang menemuinya.

"Orang tua bodoh," mereka mengejek dia, "sudah kami katakan bahwa seseorang akan mencuri kudamu. Kami sudah peringatkan bahwa kamu akan dirampok. Anda begitu miskin. Mana mungkin anda dapat melindungi binatang yang begitu berharga? Sebaiknya anda sudah menjualnya. Anda boleh minta harga apa saja. Harga setinggi apapun akan di bayar juga. Sekarang kuda itu hilang dan anda dikutuk oleh kemalangan."

Orang tua itu menjawab, "Jangan bicara terlalu cepat. Katakan saja bahwa kuda itu tidak berada di kandangnya. Itu saja yang kita tahu; selebihnya adalah penilaian. Apakah saya di kutuk atau tidak, bagaimana Anda dapat ketahui itu? Bagaimana Anda dapat menghakimi?"

Orang protes, "Jangan menggambarkan kita sebagai orang bodoh! Mungkin kita bukan ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak diperlukan. Fakta sederhana bahwa kudamu hilang adalah kutukan."

Orang tua itu berbicara lagi, "Yang saya tahu hanyalah bahwa kandang itu kosong dan kuda itu pergi. Selebihnya saya tidak tahu. Apakah itu kutukan atau berkat, saya tidak dapat katakan. Yang dapat kita lihat hanyalah sepotong saja. Siapa tahu apa yang akan terjadi nanti?"

Orang-orang desa tertawa. Menurut mereka orang itu gila. Mereka memang selalu menganggap dia orang tolol; kalau tidak, ia akan menjual kuda itu dan hidup dari uang yang diterimanya. Sebaliknya, ia seorang tukang potong kayu miskin, orang tua yang memotong kayu bakar dan menariknya keluar hutan lalu menjualnya. Uang yang ia terima hanya cukup untuk membeli makanan, tidak lebih. Hidupnya sengsara sekali. Sekarang ia sudah membuktikan bahwa ia betul-betul tolol.

Sesudah lima belas hari, kuda itu kembali. Ia tidak di curi, ia lari ke dalam hutan. Ia tidak hanya kembali, ia juga membawa sekitar selusin kuda liar bersamanya. Sekali lagi penduduk desa berkumpul di sekeliling tukang potong kayu itu dan mengatakan, "Orang tua, kamu benar dan kami salah. Yang kami anggap kutukan sebenarnya berkat. Maafkan kami."

Jawab orang itu, "Sekali lagi kalian bertindak gegabah. Katakan saja bahwa kuda itu sudah balik. Katakan saja bahwa selusin kuda balik bersama dia, tetapi jangan menilai. Bagaimana kalian tahu bahwa ini adalah berkat? Anda hanya melihat sepotong saja. Kecuali kalau kalian sudah mengetahui seluruh cerita, bagaimana anda dapat menilai? Kalian hanya membaca satu halaman dari sebuah buku. Dapatkah kalian menilai seluruh buku? Kalian hanya membaca satu kata dari sebuah ungkapan. Apakah kalian dapat mengerti seluruh ungkapan? Hidup ini begitu luas, namun Anda menilai seluruh hidup berdasarkan satu halaman atau satu kata. Yang anda tahu hanyalah sepotong! Jangan katakan itu adalah berkat. Tidak ada yang tahu. Saya sudah puas dengan apa yang saya tahu. Saya tidak terganggu karena apa yang saya tidak tahu."

"Barangkali orang tua itu benar," mereka berkata satu kepada yang lain. Jadi mereka tidak banyak berkata-kata. Tetapi di dalam hati mereka tahu ia salah. Mereka tahu itu adalah berkat. Dua belas kuda liar pulang bersama satu kuda. Dengan kerja sedikit, binatang itu dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian dijual untuk banyak uang.

Orang tua itu mempunyai seorang anak laki-laki. Anak muda itu mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu. Setelah beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda dan kedua kakinya patah. Sekali lagi orang desa berkumpul sekitar orang tua itu dan menilai.

"Kamu benar," kata mereka, "Kamu sudah buktikan bahwa kamu benar. Selusin kuda itu bukan berkat. Mereka adalah kutukan. Satu-satunya puteramu patah kedua kakinya dan sekarang dalam usia tuamu kamu tidak ada siapa-siapa untuk membantumu. Sekarang kamu lebih miskin lagi."

Orang tua itu berbicara lagi, "Ya, kalian kesetanan dengan pikiran untuk menilai, menghakimi. Jangan keterlaluan. Katakan saja bahwa anak saya patah kaki. Siapa tahu itu berkat atau kutukan? Tidak ada yang tahu. Kita hanya mempunyai sepotong cerita. Hidup ini datang sepotong-sepotong."

Maka terjadilah 2 minggu kemudian negeri itu berperang dengan negeri tetangga. Semua anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara. Hanya anak si orang tua tidak diminta karena ia sedang terluka. Sekali lagi orang berkumpul sekitar orang tua itu sambil menangis dan berteriak karena anak-anak mereka sudah dipanggil untuk bertempur. Sedikit sekali kemungkinan mereka akan kembali. Musuh sangat kuat dan perang itu akan dimenangkan musuh. Mereka mungkin tidak akan melihat anak-anak mereka kembali.

"Kamu benar, orang tua," mereka menangis, "Tuhan tahu kamu benar. Ini membuktikannya. Kecelakaan anakmu merupakan berkat. Kakinya patah, tetapi paling tidak ia ada bersamamu. Anak-anak kami pergi untuk selama-lamanya."

Orang tua itu berbicara lagi, "Tidak mungkin untuk berbicara dengan kalian. Kalian selalu menarik kesimpulan. Tidak ada yang tahu. Katakan hanya ini: anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anak saya tidak. Tidak ada yang tahu apakah itu berkat atau kutukan. Tidak ada yang cukup bijaksana untuk mengetahui. Hanya Allah yang tahu."

* * * *
Orang tua itu benar. Kita hanya tahu sepotong dari seluruh kejadian. Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian hidup ini hanya merupakan satu halaman dari buku besar. Kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan. Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita.

Saya tidak tahu dari mana si tukang kayu belajar menjaga kesabarannya. Mungkin dari tukang kayu lain di Galelia. Sebab tukang kayu itulah yang paling baik mengungkapkannya:

"Janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri."

Ia adalah yang paling tahu. Ia menulis cerita kita. Dan Ia sudah menulis bab yang terakhir. (In The Eye of The Storm - Max Lucado)

source: http://www.sumberkristen.com

Berikan mereka sukses

Pada suatu hari iblis mencari seseorang yang semula murah hati untuk dijadikan kikir, semula berserah untuk dijadikan serakah dan cepat marah. Iblis memilih seorang petani yang sedang bekerja diladang. "Nah, petani miskin ini akan kujadikan lebih miskin lagi. Pasti dia akan jadi kikir dan serakah." Sebagai langkah pertama, iblis mencuri bekal makanan milik petani itu. Pada waktu makan siang petani itu mencari-cari bekal makanannya. Ia merasa heran, "Aneh betul, makananku hilang. Aku akan lapar sepanjang hari ini. Mungkin ada tetangga yang mencurinya. Biarlah, barangkali tetanggaku itu sedang kesulitan makanan."

Iblis heran melihat reaksi petani yang begitu ikhlas dan damai. Rencananya gagal. Dengan lesu ia melapor ke para iblis lain. Mereka langsung menertawakan dia, "Tentu saja kau gagal. kalau mau bikin orang jadi kikir dan serakah, jangan jadikan dia miskin. Jadikan dia kaya!" Mulailah iblis menyusun rencana jangka panjang. Ia memberi kesuburan khusus pada lading petani itu. Ketika petani lain mengeluh akibat panen yang gagal, petani yang satu itu justru berlimpah panennya. Lumbungnya penuh dengan gandum.

Petani miskin ini langsung menjadi kaya. Petani ini tidak tau apa yang harus diperbuatnya dengan kelebihan gandumnya. Lalu iblis memberi ilham. Gandum itu bisa dibuat minuman keras vodka. Ternyata vodka bikinan petani ini laku di kota. Petani ini menjadi semakin kaya. Untuk merayakan suksesnya, petani ini mengundang para tetangganya berpesta. Vodka disajikan lalu orang mulai mabuk.

Dalam keadaan mabuk, petani ini menagih tetangga-tetangganya untuk mengembalikan gandum yang mereka pinjam. Petani itu langsung marah ketika para tetangga belum sanggup membayar akibat masa paceklik. Ia memaki-maki, "Bayar! Awas kalau kamu tidak membayar. Itu gandumku, tau? Gandum hasil keringatku!" Lalu merekapun mulai bertengkar. Kacaulah pesta itu. Iblis mengintip dari jauh dengan senyum kemenangan. Sambil menunjuk ia berkata kepada iblis-iblis lain, "Lihat, itu dia orangnya. Dulu ketika masih miskin, bekal makanannya ia ikhlaskan. Tetapi sekarang meski lumbungnya sudah luber, ia begitu kikir."

Apa maksud Leo Tolstoy menuturkan cerita ini? Kalau disimak alur cerita ini banyak mirip dengan cerita-cerita lain dari pengarang yang sama. Bandingkan misalnya dengan cerita Tolstoy tentang pembeli tanah yang serakah di buku Selamat Mengikut Dia. Leo Tolstoy (1828--1910) adalah seorang bangsawan dan tuan tanah yang kaya raya di Rusia. Tetapi ia tidak mau hidup sebagai orang kaya. Ia membagikan tanahnya kepada petani-petani miskin. Ia belajar teologi dan menjadi pengarang. Untuk kebutuhan hidupnya ia bercocok tanam dan membuat roti sendiri. Tolstoy menekankan bahwa Kerajaan Sorga ada dalam diri Yesus.

Lalu apa yang tampak dalam diri Yesus?
Seorang yang tidak terikat pada harta benda.
Seorang yang terbebas dari keserakahan.
Seorang yang tidak mengejar keberhasilan menurut standard dunia.
Seorang yang bahagia.
(Seorang yang hidupnya sungguh-sungguh bebas merdeka)

Yesus berkata: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah" (Luk 6:20)
Bandingkanlah dengan versi Mat 5:3: "Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah....."

Tolstoy seakan-akan bertanya: Kapan petani ini berbahagia? Ia menjawab: Sebelum petani ini menjadi kaya. semula pikiran petani ini bebas dari belenggu harta benda. Hatinya damai. Ia tidak dikejar oleh keserakahan.

Hubungannya dengan tetangga adalah hubungan manusia dengan manusia. Tetapi kemudian pikirannya dikuasai oleh harta benda. Hatinya tidak damai lagi. Hubungannya dengan tetangga merosot menjadi hubungan antara pemilik benda dengan peminjam benda. Dari luar tampaknya keluarga petani ini lebih beruntung dari keluarga lain. Tetapi dari dalam keadaannya berbeda.

Tolstoy bercerita bahwa suasana keluarga yang semula tenang kemudian menjadi tegang. hanya karena istrinya menumpahkan sedikit vodka, petani itu naik pitam bukan kepalang: "Bodoh! Kamu kira ini air hujan? Ini vodka. Ini mahal, tau?"

Ada lagi isu teologis yang hendak diangkat oleh Tolstoy. Benarkah sukses itu berkat dari Tuhan? Belum tentu. Sukses belum tentu berasal dari Tuhan sebab berkat Tuhan tidak selalu berbentuk sukses. Bisa jadi sukses diberikan oleh iblis sebagai strategi untuk menjatuhkan kita.

Entah apa riwayat petani itu selanjutnya. Entah apa pula yang terjadi dengan iblis ini. bisa jadi iblis ini kemudian menjadi penceramah seminar di hotel-hotel berbintang. Di situ ia memberi kiat kepada para iblis lain tentang metode mengubah orang yang semula berserah menjadi orang yang serakah, yang semula murah hati menjadi kikir, semula jujur menjadi korup dan jahat.

Di tiap seminar selalu ada peserta yang bertanya: "Apa kiatnya?" Lalu dengan senyum kemenangan ia menjawab, "Oh, saudaraku yang terkasih. Itu gampang. Suruh mereka merindukan sukses. Ajak mereka berdoa minta sukses. Lalu berikan sukses."

(Pdt. Dr. Andar Ismail)
http://forum.kafegaul.com


 

Aku adalah Aku

Firman Allah kepada Musa, “AKU ADALAH AKU” (Kel. 3:14), telah ditafsirkan bermacam-macam. Ada yang mengatakan bahwa perkataan itu adalah nama Allah, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa perkataan ini hanyalah suatu ungkapan yang menjelaskan arti nama atau karakter Allah.

Untuk mengerti perkataan ini, kita harus melihat konteksnya, yaitu pemanggilan dan pengutusan terhadap Musa untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan bangsa Mesir. Jawaban “AKU ADALAH AKU” adalah jawaban Allah atas pertanyaan Musa, “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? Apakah yang harus kujawab kepada mereka?” (Kel. 3:13). Pengetahuan bahasa Ibrani akan menolong kita memahami apakah perkataan tersebut adalah sebuah nama atau suatu ungkapan. 

Sebenarnya, pertanyaan Musa di atas sama sekali tidak menanyakan nama, melainkan arti nama. Arti nama sangatlah penting bagi orang Israel. Abram diganti menjadi Abraham. Yakub diganti menjadi Israel. Sebuah nama mencerminkan karakter orangnya. Pertanyaan Musa di dalam bahasa Inggris adalah “What (ma) is his name?” Martin Buber mengatakan bahwa bahasa Ibrani yang dipakai di Alkitab tidak pernah menggunakan kata ma untuk menanyakan nama seseorang, melainkan menggunakan kata mi. Dengan demikian, pertanyaannya seharusnya adalah “Who is he?” atau “Who is his name?” Pada saat kata “what” yang digunakan, maka yang ditanyakan pemakainya adalah ekspresi atau ungkapan yang ada di balik sebuah nama. Nama Allah sudah diketahui oleh bangsa Israel. Apa yang hendak mereka ketahui adalah apakah arti nama tersebut. 

 Terhadap pertanyaan ini Allah memberikan dua jawaban. Jawaban pertama adalah “AKU ADALAH AKU.” (Ul. 3:14). Kita tidak perlu mencari-cari arti perkataan ini secara teologis atau filosofis karena perkataan ini mengandung pengertian yang sangat sederhana. Dalam bahasa Inggris perkataan ini diterjemahkan “I am who I am” )ehye )aser )ehye.  Kata ini harus dimengerti dalam terang ayat 12. Allah menggunakan kata yang sama pada waktu Ia berkata: “Aku ( )ehye ) akan menyertai engkau.” Dengan demikian perkataan “AKU ADALAH AKU” dapat dimengerti sebagai satu pernyataan Allah pada Musa bahwa Allah adalah AKU yang akan selalu menyertai umatNya yang sedang berada di dalam perbudakan dan juga Allah adalah AKU yang akan menyertai mereka. Dia juga adalah AKU yang selalu beserta dengan mereka yang membutuhan pertolongan, baik sekarang maupun di kemudian hari.

Musa berusaha untuk mengerti Allah melalui sebuah nama. Tetapi dari jawaban Allah sendiri dapat diketahui bahwa Allah tidak dapat dibatasi di dalam sebuah nama. Pada waktu TUHAN berkata, “AKU ADALAH AKU,” (I am who I am) dengan jelas Ia mengatakan bahwa Allah tidak bisa dimengerti secara sempurna hanya dengan sebuah kata yang memiliki pengertian yang sangat terbatas. Ia adalah Allah Yang Mahakuasa, Mahaada, Mahabisa, Mahabenar, dan serba Maha. Cassuto, seorang penafsir berkebangsaan Yahudi, menyimpulkan:

To Moses’ question: What shall I say to them if they ask me for the name of Him that sent me, the reply is given ‘I am who I am’,the meaning of which is: Say this to the children of Israel, I am (who I am) has sent me to you, that is, He who sent me to you is the God who says of Himself, I am.

Perkataan TUHAN kepada Musa ini mengingatkan kita kepada perkataan “AKU ADALAH” dari Tuhan Yesus Kristus yang terkenal di dalam Injil Yohanes. Sama halnya dengan Allah Bapa, kita juga tidak boleh membatasi Allah Putra hanya di dalam sebuah nama. Oleh sebab itu Yesus Kristus berkata:

  • AKUlah Roti hidup (Yoh. 6:48).
  • AKUlah Terang dunia (8:12).
  • AKUlah pintu (10:9).
  • AKUlah Gembala yang baik (10:11).
  • AKUlah kebangkitan dan hidup (11:25).
  • AKUlah Jalan dan Kebenaran dan Hidup (14:6).
  • AKUlah Pokok Anggur yang benar (15:1).

Jawaban Allah yang kedua kepada Musa berkenaan dengan pertanyaan Musa terdapat dalam ayat 15.
Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.

 Di sini Allah kita menyebutkan namaNya yang sebenarnya. Nama Allah kita adalah Yahweh. Dengan
jelas Allah berkata bahwa Dialah Allah nenek moyang bangsa Israel, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. TUHAN juga berkata: “Itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun temurun.” 

Nama Allah kita adalah TUHAN atau Yahweh. Sedangkan “AKU ADALAH AKU” merupakan suatu ungkapan bahwa TUHAN adalah Allah yang Mahakuasa dan Dia adalah Allah yang selalui menyertai
umatNya. Dan ini digenapi dengan datangnya sang AKU ke dalam dunia ini dan dinamakan IMANUEL yang berarti: Allah beserta kita.

Sumber:
Buletin GKJMB No. 7 - Thn 4, November 1999
oleh : G.I. Dedy Wikarsa, M.Th.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Serly 22 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger