MENGAPA HARUS BERTENGKAR? - Serly 22
Headlines News :
Home » » MENGAPA HARUS BERTENGKAR?

MENGAPA HARUS BERTENGKAR?

(Yer 11:18-20; Mzm 54; Yak 3:13-4:3,7-8a; Mrk 9:30-37)

Bpk/Ibu yang dikasihi Tuhan, konon ceritanya tiga tahun pertama itu merupakan ujian bagi sebuah pernikahan. Tahun pertama pernikahan, katanya si istri yang banyak bicara, sang suami yang mendengarkan. Masuk tahun kedua, istri sudah capek bicara, maka gantian sang suami yang banyak bicara, si istri yang mendengarkan. Tahun ketiga, suami-istri banyak bicara, tetangga yang mendengarkan.

Pak Dahlan dan istrinya adalah pasangan suami istri yang rukun, mereka tidak pernah kelihatan bertengkar meskipun mereka sudah berumah tangga sekitar 60 tahun. Istrinya sangat penurut, apa-apa yang diminta dan disuruh oleh suaminya selalu dilaksanakan tanpa ada bantahan barang sedikitpun dari istrinya.

Pak Kasim, teman pak Dahlan semasa revolusi fisik menceritakan ihwal kenapa istrinya pak Dahlan begitu penurut. Pada tahun 1946 pak Dahlan hendak mengungsi bersama istrinya, kendaraan yang dipakai adalah delman yang pada waktu itu sudah terbilang mewah jika sebuah keluarga mempunyai delman. Baru beberapa kilometer berjalan kuda delman itu jatuh, mungkin karena kecapekan membawa beban yang sangat berat. Pak Dahlan bergegas turun untuk membantu kudanya berdiri kembali sambil berseru “satu!!!”.

Ketika beberapa saat kuda itu jalan, kuda tersebut jatuh kembali. Pak Dahlan bergegas turun membantu kudanya berdiri kembali sambil mengatakan “dua”. Kuda itupun jalan kembali. Istrinya keheranan. Ketika perjalanan dilanjutkan, kuda itu jatuh kembali. Pak Dahlan bergegas turun kembali sambil mengatakan “tiga” lalu pak Dahlan langsung mengeluarkan pistolnya lalu “DOR…DOR…DOR” kuda itu langsung mati.

Melihat hal itu istrinya langsung memarahi sambil memaki-maki pak Dahlan karena sudah menembak kuda satu-satunya sehingga mereka tidak bisa melanjutkan perjalanannya. Belum habis marah sang istri, pak Dahlan langsung menyela dengan mengatakan, “Satu…..!!!” Maka jangan heran, kalau setelah peristiwa itu mereka tidak pernah bertengkar.

Tema kita hari ini adalah ”Mengapa Bertengkar?” Apakah konflik dan pertengkaran itu sama? Saya sependapat dengan Dr. Norman Wright, seorang konselor Kristen yang mengatakan bahwa konflik dan pertengkaran itu sebenarnya tidak sama. Ada banyak konflik yang ditangani dan diselesaikan dengan baik tanpa harus melalui pertengkaran.

Bp/Ibu yang dikasihi Tuhan, tidak jarang sumber konflik itu kadang berawal dari hal-hal yang kelihatannya sangat sepele. Contoh : yang seorang selalu memencet pasta gigi dari bawah, sedangkan yang lain selalu dari atas. Yang seorang selalu ingin agar suhu ruangan cukup hangat, sedangkan yang lain senang membuka jendela. Dalam rapat, ada orang yang senang bercerita/memberikan opini panjang lebar, sedangkan yang lain memberikan garis besarnya saja. Yang seorang cenderung aktif di malam hari, sedangkan yang lain di pagi hari. Yang seorang perlu kamar yang benar-benar gelap untuk tidur, sedangkan pasangannya ingin tidur dengan lampu menyala. Yang seorang terbiasa menggantung baju di mana saja ia mau, sedangkan yang lain menata baju dengan gantungan berdasarkan warna dan diberi jarak 1,5 cm antar gantungan biar kelihatan rapi.

Bpk/Ibu yang dikasihi Tuhan, setiap hubungan pasti tidak mungkin sama sekali lepas dari konflik. Konflik adalah bagian dari hidup bersama. Namun, seharusnya konflik tidak berubah menjadi racun yang mematikan. Konflik dapat menjadi racun yang secara perlahan melemahkan bahkan mematikan sendi-sendi kehidupan apabila konflik tersebut tidak terselesaikan dengan baik. Namun sebaliknya, konflik dapat menjadi bumbu dalam sebuah hubungan apabila diselesaikan dengan baik.

Jika konflik tidak ditangani dan diselesaikan dengan baik, maka
kan timbul pertengkaran. Perbedaan pendapat seringkali diselesaikan dengan tuduhan, ancaman yang bermuatan emosi, ledakan-ledakan suara, kemarahan-kemarahan, wajah yang mengeras, muka merah, mata melotot dan mungkin kata-kata yang kasar. Dan jika dibiarkan maka bisa mengarah kepada tindakan/perilaku yang anarkis seperti : tindakan pemukulan, menggampar, menjambak, mendorong, menendang, dll.

Sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, pagi (sore) ini kita tidak akan membahas penyebab terjadinya pertengkaran. Tetapi lebih kepada bagaimana cara kita menghindari supaya konflik yang terjadi tidak berubah menjadi sebuah pertengkaran.

Dari perikop yang tadi sudah kita baca, kita akan belajar sedikitnya dua cara menghindari supaya konflik yang terjadi tidak berubah menjadi sebuah pertengkaran; yang pertama…

1. Bersikap Rendah Hati.

Dalam Mark 9:30-37, diceritakan bahwa para murid sedang bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Pertengkaran itu menunjukkan adanya ambisi dalam diri para murid untuk menjadi yang terbesar. Karena itulah maka mereka terdiam ketika Tuhan Yesus menanyakan apa yang mereka perdebatkan. Awalnya mereka diam, mungkin karena malu. Tuhan Yesus kemudian mengajar mereka menggunakan anak kecil. Tuhan Yesus memakai anak itu sebagai simbol/gambaran tentang kerendahan hati, karena dibandingkan dengan orang dewasa, anak kecil adalah seseorang yang rendah hati.

Di samping itu penekanan bahwa kita harus menjadi seperti anak kecil dalam kerendahan hati, juga jelas terlihat dari perkataan Tuhan Yesus dalam ay. 35, “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Dengan lain kata seorang pemimpin adalah seorang yang rendah hati dan bersedia melayani. Tuhan Yesuspun melayani dengan rendah hati, bukan untuk menjadi yang terbesar dan yang pertama, tetapi menjadi yang terakhir dan pelayan dari semuanya. Sikap ini bertentangan dengan sikap para murid dan kebanyakan orang yang selalu ingin menjadi yang terbesar, yang mengakibatkan timbulnya banyak pertengkaran.

Bentuk kerendahan hati seperti apa yang dapat kita terapkan di dalam menghindari pertengkaran. Kerendahan hati itu dapat kita tunjukkan dengan sebuah prinsip: ”Jika kita salah, akuilah.” Di dalam tulisannya yang berjudul ”Cekcok tapi sebetulnya sudah cocok” Pdt. Andar Ismail mengatakan bahw sebenarnya, tiap orang mempunyai ’kunci rahasia” untuk menyelesaikan konflik. Namun kunci itu jarang kita gunakan. Kunci itu terdiri dari tiga kata: ”Saya minta maaf.” Tiga perkataan singkat itu bisa langsung meredakan suasana. Yang perlu adalah kesediaan salah satu pihak untuk mengambil prakasa mengucapkan tiga perkataan itu.

Memang dia bersalah, tetapi bukankah kita pun juga bisa salah? Kalau begitu, mengapa lidah kita begitu berat untuk mengucapkan tiga perkataan itu, ”Saya minta maaf.” Setiap kita harus belajar meminta maaf. Bahkan, orangtua pun harus bisa meminta maaf kepada anak jika orangtua khilaf atau bersalah. Oleh Rasul Paulus, saling memaafkan bahkan dicatat sebagai kesimpulan ciri hidup manusia baru (Ef. 4:17-22).

Jika kita dengan rendah hati mengakui bahwa kita salah, maka ketrampilan berkomunikasi kita akan jauh bertambah baik dan memperdalam hubungan kita dengan orang lain. Rasul Yakobus memberitahu kita untuk mengakui kesalahan satu sama lain dan saling mendoakan (Yak. 5:16). Salomo juga berkata, ”Siapa menyembunyikan pelanggaran/kesalahannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi” (Ams. 28:13)

Jika kita memang bersalah, maka marilah dengan rendah hati kita mengakuinya. Kita bisa mengatakan sesuatu seperti, ”Ya, saya memang bersalah. Maafkan perkataan/tindakan saya yang telah melukai perasaanmu. Apa yang dapat saya lakukan untuk memperbaikinya?”

Cara kedua untuk menghindari supaya konflik yang terjadi tidak berubah menjadi sebuah pertengkaran adalah :

2. Hidup Menurut Hikmat Allah

Mengapa bertengkar? Pertengkaran tidak perlu terjadi jika kita belajar hidup sehari-hari dengan hikmat yang dari atas. Pertengkaran dapat dihindari jika kita memiliki hikmat dari atas. Makna kata ”dari atas” di sini adalah dari Allah, hal ini dapat kita lihat paralelnya dalam Yakobus 1:17: ”Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Hikmat dari Allah membawa cara berelasi yang baru dengan sesama, yaitu dengan kasih. Dalam Yak. 4:7-8 dipaparkan bahwa relasi yang baru ini merupakan hasil perjuangan untuk mengalahkan hikmat dari dunia, dari nafsu dan dari iblis. Hikmat dari Allah tampak dalam hidup sehari-hari yang diwarnai dengan cara hidup yang baik, hikmat yang lahir dari kelemah-lembutan (ay. 13), pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan, penuh dengan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik (v. 17).

Hikmat dari Allah tampak dalam hikmat yang lahir dari kelemah-lembutan. Dalam bahasa Yunani kata kelemah-lembutan ini digunakan untuk seekor kuda yang telah dijinakkan sehingga kekuatannya dapat dikendalikan. Orang yang lemah lembut dapat mengendalikan perkataannya. Ketika terjadi konflik, orang yang memiliki hikmat yang lahir dari kelemah-lembutan ini akan mengendalikan diri untuk tidak membesar-besarkan/melebih-lebihkan masalah (atau istilah anak sekarang; tidak lebay). Pada waktu terjadi konflik orang yang memiliki hikmat yang lahir dari kelemah-lembutan ini akan menghindari perkataan, ”Kamu tidak pernah”, ”Kamu selalu”, ”Semua orang.” Misalnya: ”Kamu tidak pernah tetap waktu”, ”Kamu selalu berkata seperti itu”, ”Semua wanita memang cerewet”, ”Semua laki-laki memang seperti itu” (kecuali Meggy Z dan Basofi Soedirman, ”Tidak semua laki-laki…”), ”Semua orang berpendapat kamu memang begitu, dan saya juga.” Orang yang memiliki hikmat yang lahir dari kelemah-lembutan akan mengungkapkan kebenaran, tetapi ia akan menyatakan dengan kasih dan tidak akan melebih-lebihkan. Sikap pendamai. Hikmat manusia membawa kepada persaingan, permusuhan dan pertengkaran, tetapi hikmat Allah membawa kepada perdamaian.

Sikap pendamai menunjuk pada orang yang tidak senang mencari gara-gara/permusuhan, tidak senang membalas kejahatan dengan kejahatan, tidak senang mengadu domba, tetapi sebaliknya senang menda­maikan. Ketika terjadi konflik, sikap pendamai ini dapat kita wujudkan dengan cara berani mengambil langkah pertama untuk berdamai, tidak menunggu, tidak mencari siapa yang salah. Hikmat Allah menjadikan orang percaya menjadi peramah.

Peramah disini bukan hanya berarti murah senyum, tetapi “considerate” = mempertimbangkan perasaan orang lain. Ada sepasang suami istri yang ribut karena tidak peramah/tidak mempertimbangkan perasaan pasangannya. Suami pulang dari kantor mengeluh kepada istrinya, “Kamu enak di rumah. Tadi jalan macet, di kantor kena marah bos, dan AC kantor rusak. Saya sangat lelah”. Istrinya menjawab “Oh begitu, saya lebih capek dari kamu. Anak kita mencelupkan kucing ke toilet, karena mengurusnya, masakan jadi gosong, jadinya saya harus memasak dua kali, dan sementara itu, tadi hujan turun. Jemuran menjadi basah kembali karena terlambat diangkat, saya harus mencucinya lagi”. Akhirnya suami istri ini menjadi bertengkar. Masalahnya di “considerate”, si istri dalam cerita tadi tidak perlu berkata kepada suami, saya lebih capek dari kamu. Terima saja fakta bahwa mereka berdua kelelahan, dan mereka berdua sama-sama butuh untuk relaks dan istirahat. Di samping itu, orang yang ramah jika ada terlibat konflik akan fokus pada masalahnya dan bukan menyerang orangnya. Apalagi membawa-bawa saudara atau ipar.

Penurut artinya hikmat Allah menyebabkan orang-orang percaya dapat menyesuaikan diri, mudah untuk hidup dan bekerja sama dengan orang lain. Hikmat manusia menjadikan seseorang keras kepala, tetapi orang yang penurut bersedia mendengarkan pendapat/nasehat orang lain.

Penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik. Orang yang memiliki hikmat Allah akan penuh dengan belas kasihan. Orang yang dikuasai oleh belas kasihan tidak akan mendiamkan orang lain/ pasangannya ketika sedang terjadi konflik. Sebagian orang mencoba cara ’mendiamkan’ untuk menghindari pertengkaran. Memang ada pola tertentu yang berhasil dengan cara mendiamkan. Tetapi diam tidak pernah memberi hasil yang memuaskan dalam jangka waktu yang lama. Pepatah ”diam itu emas” dapat juga berarti pengecut. Orang yang penuh dengan belas kasihan, tidak akan bersembunyi di balik diam hanya karena takut menghadapi masalah yang ada.

Tidak memihak, ini berarti bahwa orang itu selalu bersikap adil, baik terhadap bawahan/pegawai, anak dsb. Tidak munafik artinya: tidak bermuka dua, tidak suka ber’sandiwara’. Dengan bersikap tidak memihak dan tidak munafik, maka kita telah menghindarkan diri dari konflik yang tidak perlu.

Penutup:

Ada dua orang bijak yang selama puluhan tahun tinggal bersama dengan damai. Tak pernah sekali pun mereka cekcok. Suatu hari, seorang dari mereka berkata, “Bagaimana kalau hari ini kita mencoba untuk bertengkar?” Yang lain setuju, “Baik, mari kita pertengkarkan sepotong roti ini.” Lalu mereka bersiap-siap memulai pertengkaran itu. Orang pertama berkata, “Roti ini punyaku. Ini milikku semua.” Orang bijak kedua menyahut, “Tidak apa-apa. Silakan saja ambil semua.” Pertengkaran itu pun gagal.

Mari kita gagalkan pertengkaran dengan bersikap rendah hati dan hidup menurut hikmat Allah. Amin.

sumber http://4yub.blogdetik.com
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Serly 22 - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger